Ketika berada di Iran, berburu cenderamata di bazaar kota-kota besar Iran menjadi hal yang menarik untuk dilakukan, memang sih tidak ada yang bisa mengalahkan kekuatan kenangan akan perjalanan itu sendiri dibandingkan hasil belanjaan, namun tidak ada salahnya untuk membeli sedikit buah tangan, bukan saja sebagai kenang-kenangan, namun juga sebagai kontribusi kita untuk perekonomian lokal. 

Sesuai advis dari kawan saya Bowo sesaat sebelum keberangkatan yang berkali-kali mengingkatkan jika saya melihat sesuatu barang unik yang saya taksir di satu kota, lebih baik langsung dibeli karena setiap kota di Iran memiliki keunikannya sendiri-sendiri sehingga jenis suvenir yang dijual juga berbeda di setiap kota. 

Bazaar atau old historical market yang menjadi simbol kejayaan suatu kota tua merupakan tempat paling tepat untuk berburu cenderamata, dan yang asyiknya bazaar-bazaar Iran itu sangat menyenangkan, biasanya bazaar merupakan tempat yang paling banyak hustle nya namun tidak di Iran, jangan ragu bertanya harga atau menawar tanpa perlu panik jika penjualnya memaksa, sungguh beda seperti bazaar-bazaar di Turki atau Maroko, di Iran lebih santai dan sama sekali tidak kuatir


Where to Find Unique Souvenirs in Singapore by DEW ➨ http://wp.me/p3L2CT-PO
Souvenir Hunting by Nyonya Sepatu ➨ http://wp.me/p2Et3Y-3aO


1. Persian Carpet 

Jika budget bukan masalah dan koper Anda masih ada ruang kosong, maka pilihan membeli karpet khas Iran jangan dilewatkan, tapi pastikan jika Anda mengenal betul jenis karpet Persia yang asli seperti apa. 
Menurut salah satu sumber, Persian Carpet yang terbuat dari sutra asli jika ditumpahkan sedikit air panas maka karpet itu tidak mengkerut, berbeda dengan yang terbuat dari campuran plastik. 
Harga Persian Carpet di salah satu toko di Yazd yang sempat saya masuki, untuk ukuran medium seharga US$ 2000,- 


2. Table Cloth

Orang lokal menyebut penutup meja makan ini dengan sebutan Termeh, dibuat secara manual dan menggunakan sutra alam dan kain wol.
Proses menenun Termeh sangat sensitif dan perlu hati-hati sehingga proses nya pun memakan waktu, dan satu penenun hanya mampu menghasilkan  hanya 25-30 sentimeter dalam satu hari.
Saat ini telah banyak ditemukan Termeh yang dibuat dari pabrik dengan bahan sintetis, menurut mata saya yang awam, Termeh sintetis pun menarik untuk dibeli karena motif yang ditampilkan biasanya adalah ikonik khas Iran.


3. Saffron 

Walaupun tampilan bumbu dan herbal yang ada di bazaar Iran tidak semenarik bazaar di Istanbul atau Marrakech yang ditata sedemikian tinggi demi menarik perhatian pengunjung, namun membawa pulang saffron dari Iran bisa dibilang wajib untuk dilakukan, saya mendapatkan advis ini dari beberapa orang lokal atau expat yang saya temui saat perjalanan. 

Saffron adalah salah satu bumbu termahal di dunia dan Iran adalah produsen Saffron terbesar di dunia dengan kualitas super. 
Mengapa mahal, karena proses pembuatan Saffron ini cukup rumit dan beberapa prosesnya dilakukan secara manual. 
Saffron adalah serbuk benang sari bunga Crocus ( Rose Saffron ). Benang sari yang dikeringkan lantas diolah menjadi Saffron. Untuk satu kilo saffron saja diperlukan 150 ribu bunga Crocus. 


4. Persian Tea

Sebagai pencinta minuman teh, beberapa kali di rumah saya juga pernah menyeduh teh dengan nama Earl Grey Persian dari teh merek terkenal asal Inggris, dan tentunya ketika berada di negaranya membeli teh juga saya lakukan. 
Teh Iran itu berwarna coklat pekat namun dengan cita rasa yang sangat ringan. 
Tradisi minum teh di Iran dimulai sejak pagi hari bersamaan dengan mereka melakukan doa subuh, teh juga menemani makan siang, percakapan sore, terus sampai larut malam, secangkir teh selalu hadir menemani. 
Sayang sekali saya tidak sempat mengunjungi Lahijan yang adalah area perkebunan teh pertama di Iran.


[ Baca Juga Disini ➨ 10 Pilihan Suvenir Menarik dari Yunani ]
 

5. Syal / Selendang

Scarf is really a fashion statement in Iran, jadi mumpung di negara dimana semua wanitanya wajib menggunakan penutup kepala atau syal, maka membeli syal di Iran bisa menjadi pilihan cenderamata yang menarik, harganya sudah pasti bersaing demikian juga dengan motif yang tersedia. 
Selain selendang, membeli 'manteau' sejenis trench coat yang banyak dipakai banyak perempuan di Iran atau kaftan juga bisa dijadikan pilihan.


6. Tembaga, Perak, Enamel

Menyusuri labirin bazaar di Iran mata saya selalu tertumpu pada peralatan rumah tangga yang terbuat dari tembaga, timah, perak atau enamel, ada vas bunga, panci untuk memasak, piring, cangkir, ah you name it deh, semua cantik untuk dibeli. 





Travel tips yang jangan sampai dilupakan ketika akan traveling ke Iran adalah bawalah uang tunai sesuai kebutuhan karena kartu ATM dan kartu kredit tidak dapat digunakan disana. 
Khusus untuk beberapa toko yang menjual karpet Persia, bisa menggunakan kartu kredit yang nanti akan disambungkan secara manual prosesnya melalui bank di Dubai, tentunya dengan extra charge sekitar 6 persen dari total pembelian.

* * *

#CeritaJalanAsik is a weekly travel theme where we share our travel stories based on a certain theme by jalan2liburan, nyonyasepatu dan dewtraveller. 
Check our posts every Wednesday!

This week’s theme : Souvenir Hunting
Flower Carpet 2016 at Brussels' Main Square

Setiap dua tahun sekali alun-alun kota Brussels berubah menjadi sangat berwarna dan tercium harum semerbak karena alun-alun disana yang juga merupakan UNESCO World Heritage Site dihiasi karpet bunga yang terbuat dari 600.000 bunga begonias ( begonias tuberosa grandiflora )
Acara 2 tahunan yang kerap jatuh di bulan Agustus ini hanya berlangsung 3 hari saja dikarenakan bunga yang digunakan memang bunga segar yang tidak bisa bertahan lama. 

Brussels' Flower Carpet telah diadakan selama 20 kali, setiap tahunnya mengambil tema dari negara yang berbeda, seperti pada tahun 2014 yang lalu mengangkat tema negara Turki yaitu memperingati 50 tahun imigrasi orang Turki ke Belgia sehingga bunga yang dirangkai serupa karpet kilim khas Turki. 

Tahun 2016 ini, tema lain yang diangkat ke permukaan adalah mengenai negara Jepang, dan persahabatan diplomatik kedua negara yang telah dilakukan sejak 150 tahun, lengkap dengan ikon khas Jepang seperti pohon bambu dan ikan koi.

Golden Hour - Flower Carpet 2016 at Brussels' Main Square

From Balcony of City Hall Brussels - Flower Carpet 2016 at Brussels' Main Square

Details of Begonias - Flower Carpet 2016 at Brussels' Main Square

Flower Carpet 2016 at Brussels' Main Square


Untuk melihat karpet bunga ini akan lebih maksimal jika dilakukan dari ketinggian, dan tahun ini saya ingin melihatnya dari atas balkoni Balai Kota Brussels. Antrian yang panjang menuju balkoni sebenarnya jauh dari menjemukan karena di saat yang bersamaan kita dapat melihat beberapa ruangan yang terbuka untuk umum, pernak pernik seperti chandelier, meubel antik dan segala lukisan yang ada di dalam Balai Kota sungguh memukau. 

City Hall of Brussels

City Hall of Brussels


Penyelenggara acara Brussels' Flower Carpet ini tidak tanggung-tanggung membuat acara ini semakin menarik dengan menghadirkan pesta kembang api setiap malam, live concert dan light show. 

Jika tertarik melihat karpet bunga raksasa ini, pastikan mengunjungi Brussels pada musim panas di tahun 2018, 2020 dan setiap 2 tahun berikutnya.

There is no doubt that museum makes us smarter because it s an effective way of lifelong learning, provoke our imagination and exploration. Some travelers are avoiding museum because they cant stand of the long queues or just simply doesnt have enough time.

Another reason that the entrance fee in some museums not always cheap, though we know that museum also needs support to keep their door open.
Buying a visit card if you are in one destination can be a good option, like for instance in Antwerp, there is an Antwerp City Card, with the price starting from €27 you can visit all of the museums in Antwerp for free, hop on off bus and also as a discount card in many shops, I consider this price is a good bargain.

Antwerp City Card

If you only have a short time in Antwerp and still you want to visit some great museums, here are the top 7 awesome museums to see if you are in Antwerp :

1. The Rubenshuis 

Antwerp is a hometown of Peter Paul Ruben, one of the greatest and most famous painters that lived between 1577 and 1640. 
During early adulthood Rubens traveled to Italy where he studied and became influenced by the Italian masters. In 1609 he came back to Antwerp and started to designed by himself this house, included the studio, courtyard, and a monumental portico. The Baroque garden that he also planned was interesting, in the summer visitors can enjoy and relax in there too. 

The museum has several works of Rubens, such as his self portrait, and also there are an objects and furniture that belonged to him, such a good idea to imagine how Rubens used to live.

Nowadays almost all of the works Rubens and his pupils created in the studio have been dispersed over major museums across the whole world, included 24 paintings that are now on display in the Louvre Paris.

Ruben' s Self Portrait at Rubenhuis

The Crowd inside the Rubenshuis
Backyard in the Rubenhuis Museum

2. Mode Museum 

Antwerp is not only the world diamond capital and the headquarters of numerous local breweries, Antwerp is also a fashion capital. To know more about the history of fashion in Antwerp, visiting the Mode Museum is a must, located in the heart of the shopping street of in the city. 

" You may have heard about it or not, but Antwerp is a true fashion city. Everyone is looking good, the fashion academy has an international reputation and a wide range of designer and concept stores line the tiny streets" - http://www.justtravelous.com

3. Museum Aan De Stroom ( MAS )

Beautifully located along the river Scheldt in the Eilandje district of Antwerp, MAS opened its first door in 2011, pretty new player in town but it is the largest museum of the city, the design of the building is very impressive, its facade is made of Indian red sandstone and curved glass panel construction, at a glance it looks like a Lego bricks.

MAS has more than 470.000 objects to display and they regroups the collection in an innovative story that makes MAS is more than just a museum.
In the highest level of the building, you ll be able to catch a 360-degree view over Antwerp, and it s not included in the ticket entrance, so it s free for public. In the summertime, it is open until midnight.


One of the historical items in MAS Antwerp
 
Museum Aan De Stroom / MAS Antwerp captured by Stefan Cruysberghs

4. Plantin Moretus Museum 

Probably you have no idea about the fact that Antwerp is one of the three leading cities of an early European printing business, together with  Paris and Venice, so if you are into books, this is a museum not to miss. 

Plantin Moretus Museum is founded by Christoffel Plantijn in 1555, as the first industrial printing works in history, it is associated with the history of the invention and spread of typography. Granted by Unesco in 2005, the museum demonstrates the entire book production process from the 15th to the 18th century.

Inside the museum there is a bunch of an impressive collection of early printing works as well an awesome extensive library, how I love to be around inside this museum, feels like walking in a time capsule.
Old printer equipment 

The extensive library inside the museum

5. Red Star Line Museum

In the late 19th century till the early 20th century two millions of people from Europe migrated to the United States and Canada ( included Albert Einstein ), with the big ship named Red Star Line that dock in Antwerp, awaiting their passage to freer lands trying to find a better life.

Red Star Line Museum is the newest museum in town with an interactive modern expo, combining the art of story telling, absolutely a powerful exhibition and I found myself deeply moved by some of the passenger stories, more or less the same with what is actually happening right now, the big amount of migrant from war zone countries in the Middle East like Syria or Africa to Europe.  


Red Star Line Ship

One big family as a passengers

Albert Einstein as one of the passenger in the Red Star Line

6. Rockox House Museum 

Art gives us an experience like nothing else can and Antwerp is blessed with several small art museums with fine collections, included this Rockox House. 

Nicolaas Rockox was a mayor of Antwerp back then in 17th century, an art collector, a friend of Ruben. As its name, Rockox House is his house where you can see his collections, mostly old masters and ecclesiastical art.  


Such a perfect extensive museum because it s very intimate like your own home.
 
Rockox House is probably one of my favorite art museums in town

7. Museum Butcher Hall/Vleeshuis

I m quite surprise to find only little information about this Butcher House in any guide books, which actually one of the important landmarks of the city.  This 500 year old Gothic building is located not far from the city hall and the Steen castle, so it s pretty easy to find by walking distance. 

The Butcher's Hall reopened in September of 2006 as the City Sounds Museum, a museum of music when you can find a fine collection of old musical instruments and in the basement there is an exhibition of how church bells are made.


Old bell churches inside the Butcher Hall Museum



➨ Interesting Museums to Visit in South-East Asia by Dream Explore Wander : http://wp.me/p3L2CT-PR

➨ Museum Travel by Nyonya Sepatu :   

Antwerp Museum Apps

To make the visitors easy in finding their suitable museums to visit during their trip to Antwerp, one can download the application "Antwerp Museum Apps" in their smart gadgets. This app is the ultimate guide to explore the museums in Antwerp

Click here for iTunes 
and click here for Android Apss


Night in The Museum 

Antwerp is such a perfect place for hang out, especially in the summer time where the day is always young. Museum Night is one of the annual program for visitors to see all of the museums in Antwerp for only one price.

Museum Night surprises with soundscapes inside, a 19th century photoshoot, tours in dark museum halls and a marriage ceremony with dance initiation. Afterwards you can party on the Badboot during the 'after party museum night". How cool is that?! Visiting museums wont be the same again ;-)





* * *

#CeritaJalanAsik is a weekly travel theme where we share our travel stories based on a certain theme by jalan2liburan, nyonyasepatu dan dewtraveller. 
Check our posts every Wednesday!

This week’s theme : Museum Travel
 

Seharian ini saya dua kali melihat iklan parfum keluaran rumah mode tersohor dunia Dior dan Chanel, keduanya menampilkan Grasse, kota di Prancis Selatan yang menyandang status sebagai kota parfum dunia. Rumah mode Louis Vuitton pun setelah 7 tahun akhirnya kembali mengeluarkan parfum andalan mereka yang dibuat oleh perfumer asal Grasse, Jacques Cavallier yang dikenal juga sebagai The Nose pencium aroma parfum.
Sebegitu pentingnya kota Grasse dalam peranan minyak wangi, tercatat sejak akhir abad 18 telah ada 2000 koleksi parfum dengan aroma yang berbeda. 
Menyempatkan diri mengunjungi Grasse yang tersohor itu pada musim panas yang lalu ketika saya melakukan road trip di Prancis Selatan, bahkan paginya saya juga singgah di headquarter L'occitane di kota Monasque, pokoknya tema trip perjalanan saya ke Prancis Selatan serba wewangian. 
Bicara mengenai Grasse sebagai kota parfum dunia maka ketika keluar dari area parkir kendaraan dan melangkahkan kaki menuju kota tuanya, yang ada hanyalah harum berbagai aroma parfum. Deretan butik yang menjual berbagai merek parfum artisan sampai merek high end, tinggal pilih mana yang Anda suka, atau jika mau bisa kok membuat formula sendiri wangi parfum yang Anda mau. 

Di Grasse ada 3 pabrik merek parfum klasik yang bisa Anda kunjungi yaitu Fragonard, Molinard dan Galimard, dimana kunjungan pabrik tersebut gratis asal melakukan register sebelum tiba, tentunya akan menjadi pengalaman yang menyenangkan selama Anda ada di Grasse. 
Fragonard is founded in 1926 in Grasse
one of Fragonard shops in Grasse
Shopping time , glad to get my 2nd collection of Fragonard, the 1st one I got from my ex colleague back then
Grasse kota tua dengan ciri khas abad pertengahan yang kuat, jalanan dari konblok dan gang-gang kecil yang menyesatkan, terkadang gelap namun jauh dari kata menakutkan, sesekali saya berhenti di toko sabun dan mencoba menganalisa harum apa yang paling dominan dari sabun berwarna merah muda yang menggoda. 
Aroma harum parfum mengikuti kemanapun kita berjalan membuat terlena akan sejarah bau busuk menyengat yang pernah meliputi kota ini, kembali ke awal abad pertengahan, kota Grasse adalah kota yang menghasilkan produk kulit berkualitas, proses pembuatannya membuat seantero kota menjadi bau busuk, dan untuk menutupi bau tidak sedap itu, dibuatlah essence oil dari bunga-bunga yang tumbuh secara lokal di Grasse. 
Produksi pembuatan kulit semakin menurun karena pajak yang tinggi, sedangkan sementara itu produksi parfum semakin laku. 
Old town Grasse in Southern France

Exploring Grasse and its charm
Kontur tanah dan cuaca yang mendukung membuat ladang bunga di Grasse dipercaya dijadikan bahan utama pengolahan parfum terkenal, misalnya Chanel No. 5, semua bunga mawar yang digunakan adalah berasal dari Grasse. Sebelum saya berangkat ke Prancis Selatan bulan Juli lalu, saya melihat banyak sekali fashion influencers yang diundang melihat langsung ladang bunga mawar di Grasse dalam rangka mempromosikan Chanel No 5 yang akan hadir dengan tampilan berbeda, para influencers tersebut melakukan aktifitas mulai dari memetik bunga mawar di ladang milik Chanel dan melihat langsung bagaimana kelopak mawar tersebut bisa menghasilkan minyak essential.
Hitungan 1 kilogram terdiri atas 500 bunga mawar sedangkan 1 kilogram bunga melati memerlukan sampai dengan 3000 bunga melati, dan semuanya dipetik secara manual, tidak heran kan jika sebotol parfum dari merek kesayangan itu memang tidak murah.



Istilah people watching sebenarnya ga melulu mengenai orang lokal sih, mengamati turis lain juga bisa sama serunya. Beda tujuan wisatanya biasanya beda juga tipe wisatawan yang datang ke tempat itu, contoh yang mudah aja deh, turis yang beredar di Kuta biasanya beda dengan yang memilih tinggal di Nusa Dua. Dan asal negara darimana turis itu berasal biasanya mencerminkan juga kebiasaan mereka di negaranya walaupun gak semua bisa disamaratakan. 

Turis Cina biasanya tidak lepas dari pengamatan ketika kita sedang traveling ya, ada saja ulah mereka yang membuat kita ketawa atau malah kadang kesal, walaupun demikian niat dan usaha mereka untuk menjelajahi dunia patut diacungi jempol, gak banyak yang rela menjual harta demi bisa keliling Eropa 3 minggu, kadang mereka hanya petani dari desa yang bermimpi ingin melihat Eiffel atau berbelanja barang bermerek langsung di toko di negara asli merek itu berasal. 
Beberapa waktu lalu saya menonton di TV lokal mengenai kisah grup turis Cina ini, jadi ada salah satu jurnalis yang mengikuti mereka selama  tur di Eropa, menurut ceritanya rata-rata turis Cina ini menghabiskan € 5000 per orang untuk belanja barang bermerek, menurut mereka ini kesempatan sekali seumur hidup, sedih juga ya ngebayanginnya, mereka kerja keras di negara asalnya, lalu menabung dan menghabiskannya dalam sekejab, dan belum tentu bisa kejadian lagi dalam waktu dekat. 
Acara ini benaran lucu deh karena banyak menampilkan bentrok budaya ketika mereka di Eropa, coba bayangin mereka makan croissant di Paris pakai sumpit. 

Lucunya Mengamati Turis Lain Ketika Traveling, entahlah mereka sedang ingin berpose seperti apa :-)


Mengamati turis lain ketika traveling memang seru, kadang apa yang mereka lakukan menurut mereka hal yang normal tapi belum tentu untuk orang lain, demikian juga sebaliknya. 
Suatu siang di Trieste Italia, karena hari itu hari kesekian kita di Italia, perut Asia saya pun menginginkan nasi dan lauk ala Indonesia apalagi saat itu musim dingin, enough reason deh rasanya kalau saya menginginkan makanan yang biasa saya makan, toh sesekali. Pilihannya antara restoran Thailand, Malaysia atau Cina, ya India juga boleh deh karena menu mereka juga banyak nasi nya. Berjodohnya dengan restoran Cina karena itu yang kita lihat pertama kali, restorannya kosong tapi banyak meja dengan tanda reserved, banyak banget mungkin lebih dari 50 meja. 
Menu yang kita pesan cepat banget datangnya, langsung deh kita santap tanpa ba bi bu, tiba-tiba ketika lagi asyik makan mendadak restoran ramai banget, sepertinya ada bus pariwisata berukuran besar yang menurunkan penumpangnya, mereka buru-buru duduk di kursi-kursi bertanda reserved, boro-boro buka jaket winter, yang ada mereka langsung mengambil mangkok kecil di depan meja dengan sumpitnya, pelayan restorannya yang sepertinya telah siap dengan jam kedatangan mereka langsung sigap menyiapkan makanan sampai meja terlihat penuh, restoran Cina yang sepi saat kita masuki tadi seketika berubah kayak pasar pagi, dipenuhi segambreng turis Cina. 
To be honest, we lost our appetite. Cara mereka makan seperti takut ditinggal bus, disambi ngobrol juga dan suara kecapan dari setiap mulut. Kalau diingat sekarang sih lucu ya tapi tidak saat kejadian. 

Jangan lewatkan juga membaca artikel dengan tema serupa dari kedua rekan saya ini ya :


Semakin sering traveling ya semakin sering juga bakalan kita bertemu dengan mereka, walaupun di Cyprus sekalipun, saya ingat banget waktu itu kita lagi tur di dalam gereja tua di kota Paphos Cyprus, mendadak seperti banyak lebah yang datang, gereja yang sepi mendadak jadi ramai dan kilatan blits dimana-mana, padahal turis Cina yang datang ini juga biasanya memiliki pemandu wisata yang menjelaskan mengenai lokasi yang sedang mereka datangi tapi sepertinya mereka lebih senang beredar dan cekrek ini cekrek itu dan berlalu. 

People watching yang seperti ini yang menyenangkan karena tidak menganggu kenyamanan wisatawan lainnya


Mengamati turis lain selain bakalan menciptakan cerita kocak dan seru, sering juga ngeselin, apalagi kalau turisnya adalah turis dari negara sendiri, pengalaman apes ini kejadian juga ketika kita lagi di Cappadocia, tepatnya ketika sedang tur di underground city. Karena sejarahnya Underground City ini sungguh menarik, saya pun mencari pemandu wisata yang tahu banyak mengenai hal ini, beruntungnya saya ketika pemandu wisata yang saat itu tersedia adalah seorang bapak tua yang adalah pemandu wisata pertama yang memandu di Underground City sejak ditemukan. 

[ Itinerary Jalan-Jalan ke Turki, Baca Disini ]

Sesuai namanya, Underground City adalah kota yang letaknya di bawah tanah, bertingkat-tingkat namun ke bawah tanah, seperti layaknya kota di Underground City juga terdapat bekas tempat ternak, dapur, toilet, kamar bahkan altar. Sampailah kita di lantai 2 kota bawah tanah ini, bapak pemandu menjelaskan di lantai ini dulunya adalah altar, terdapat batu besar peninggalannya masih terletak disana. 
Mendadak si bapak terdiam karena melihat segerombolan perempuan yang menggunakan pakaian seragam berwarna merah muda menaiki batu-batu tersebut dan selfie di atasnya. Dan hal yang terburuk adalah mereka berbicara dalam Bahasa Indonesia, jadilah bisa dipastikan grup turis perempuan tersebut berasal dari Indonesia. Kalau ada bubuk penghilang sepertinya saya pengen menghilang saja apalagi ketika bapak pemandu bertanya kepada saya apakah saya mengetahui bahasa apa yang mereka gunakan. 

Bagaimana dengan kalian? Apakah punya cerita lucu atau ngeselin ketika traveling yang berhubungan dengan turis lain? 
Share dong di kolom komen :-)

 




Obeying Islamic rules including a dress code is necessary in Iran also for female foreigners and tourists. To know about that fact, at first I, as a non Muslim person, was a little worried but surprisingly after an hour or so, I got used to the headscarf and long sleeve. 
I m writing this post to make you sure that this dress code thingy wont stop you from traveling to Iran.
 

1. Iranian Women Are So Fashionable

To know the fact that Iranian women are so pretty and wont hesitate to wear make up everyday, nice clothes and being so fashionista especially in a big cities like Tehran dan Shiraz, then you have enough reason to look good too, forget about being an extremely unattractive with your outfits when you are in Iran.
 

2. Colours Are Your Best Friends

Rumor has it that every women in Iran must wearing everything in black, which is not true as there is no restriction about it.
So if you are into colours, bring them all especially if you travel during spring or summer season. 

3. Hair and Body Coverage

As soon as your International flight has landed in Tehran or other cities in Iran, the dress code regulation is started. Your arms should not be left bare and your legs also should be covered down to the ankles, and the next thing is to wear your headscarves. 
No need to worry that people still can see part of your fringe, but one thing to know if you have a long hair, you need to pull them up together. 

As colours is my best friends, I brought a lot of scarves in different colours with me, it helps a lot in mix and max the clothes, the biggest challenge that you’ll encounter is keeping your scarf on, my tip is bring with you some bobby pin and you are set.

Beside baggy pants and cargo pants, I brought some maxi skirts too, though it s not common to see Iranian women are wearing maxi skirt.
Funny to know that skinny jeans is allowed and actually I really love to see that fact.

Another thing that make me a bit worried before my departure to Iran if sandals or open-shoes are allowed in Iran? Well, the answer is yes, even the painted nail is totally fine.

Buying clothes in the country you are visiting is usually a good thing, the same thing with Iran. If you think that you dont have any appropriate clothes or headscarves to bring with you, then to go shopping when you arrive in Iran can be an option. You will see a lot of "manto" ( a kind of trench coat ) and of course colourful headscarves. 

Disclaimer: The article is in no way promoting the compulsory hijab enforced in Iran.
I would like to help foreigner who is in doubt and help them to make their trip as best as possible.


OOTD in Iran & What I Wore in Iran

OOTD in Iran & What I Wore in Iran 

What about the dress code to Iran for man?
The rules are quite simple : no short pants, no extreme short sleeve and no tight shirts. 
 

What needs to be covered in Iran for female travelers

4. Wearing Chādor in Holy Sites in Iran

A chādor ( in Farsi means "tent" ) is an outer garment, floor-length covering from the top of the head. The intention to wear chādor is to hide the curve of a woman's body. Wearing a chādor is not a mandatory unless if you would like to visit some holy shrine or mosques in Iran.

This is what chādor looks like, it s a mandatory to wear it if you visiting holy shrine in Iran

Do not worry if you don't have a chādor collection with you because there are sometimes a counter that will lent a chādor to the visitor.

Have a good time in Iran and don't worry about the dress code! 
Just be comfortable, enjoy your journey and be happy.


* * *

Dont missed it to read a new post from Dream Explore Wander, she is writing about what is her favourite footwear for traveling in summer
and from Nyonya Sepatu about her OOTD or "Outfit of The Day" then traveling.

#CeritaJalanAsik is a weekly travel theme where we share our travel stories based on a certain theme by jalan2liburan, nyonyasepatu dan dewtraveller. Check our posts every Wednesday!

This week’s theme : Fashion & Travel







Untuk kamu yang setia mengikuti perjalanan kita melalui Instagram, kemungkinan besar mengamati betapa saya sangat mengagumi keindahan ladang bunga. Dan pada tahun ini ada beberapa ladang bunga impian yang berhasil saya datangi. 

Kiri Atas : Ladang Bunga Tulip di Pedesaan Belanda Selatan - Ladang Bunga Lavender di Valensole, Prancis Selatan, Ladang Bunga Matahari di Mison, Prancis Selatan  ⏐ Bawah Kiri : Flower Carpet di Brussels, Hutan Halle yang dipenuhi bunga Hyacinth Biru disebut juga blue forest

Menurut saya bunga matahari memiliki tampilan persis sesuai namanya, ditanam dan disembah oleh Suku Aztek pada masanya karena dianggap penjelmaan dari dewa matahari. Tentunya pada abad sekarang orang menyukai bunga matahari karena efek bunga ini yang memberikan kebahagiaan walau hanya untuk dipandang, karena toh bunga matahari tidak mengeluarkan harum wangi seperti bunga mawar misalnya. 

Ladang bunga matahari yang pernah saya lihat dan menurut saya indah adalah yang terletak di Tuscany, Italia, saya belum pernah berjalan langsung menyusuri ladang bunga matahari disana namun hanya melewati dengan kereta api yang membawa saya dari Venesia ke Roma, puluhan kilometer perjalanan dengan kereta api dengan panorama ladang bunga matahari yang hanya bisa saya lihat dari kaca jendela di kereta. 
Kontur Tuscany yang berbukit-bukit membuat ladang bunga matahari disana menjadi sangat menarik untuk didokumentasikan.  

Liputan bunga matahari di koran lokal Belgia dimana kami sempat diinterview


Ah sebenarnya ladang matahari dimana pun indah jika sudah cinta, seperti beberapa hari lalu suami saya menemukan ladang matahari tidak jauh dari tempat kita tinggal, sekitar 6 kilometer atau kurang dari 10 menit berkendara kesana, tidak sebesar di Provence atau Tuscany, tapi cukup menyenangkan untuk menghabiskan waktu disana, mendengar suara desis angin dan lebah yang tidak kalah kencangnya. Tidak usah kuatir dengan lebah yang beredar di sekeliling ladang bunga matahari karena mereka terlalu sibuk dan excited menghisap sari bunga.



Helianthus Annuus adalah nama latin dari bunga matahari, bijinya memiliki banyak kegunaan mulai dijadikan minyak yang digunakan untuk memasak karena mengandung lemak rendah dan vitamin E. Jadinya selain memang indah bunga matahari juga memberikan manfaat untuk manusia. Enough reason to love sunflowers more ! :-)

Ngomong-ngomong bunga favorit kamu apa? 
Dan apakah tertarik untuk traveling ke daerah dimana ladang bunga favoritmu itu berada?  
Share dong di kolom komen ! :-)


Tomorrowland via


Musim panas biasanya saya jarang ngerencanain keluar dari Belgia, kalaupun iya paling ke negara tetangga saja secara musim panas itu tiap hari banyak banget acara keriaan dimana-mana, biasanya dimulai dari bulan Juni sampai dengan awal September, rain or shine the parties are literally everywhere.
Sekarang lagi musimnya yang memanfaatkan area apapun jadi tempat party, gudang atau hanggar di pelabuhan aja bisa disulap jadi area salsa tiap malam, terus yang namanya studio radio pun bisa pindah ke pinggir pantai selama musim panas, asli lah seru banget.

Cerita Jalan Asik kali ini ngebahas Concert and Festival, so jangan lewatkan cerita Nyonya Sepatu mengenai keseruan konser dan teater yang pernah ia datangi.
dan Dream Explore Wander mengenai pengalamannya memanfaatkan waktu luang sebagai mahasiswa yang ingin juga having fun dengan budget mahasiswanya.


Pesta Kampung

Di Belgia itu rata-rata tiap kampung punya pestanya sendiri, penonton yang datang dari pelosok mana saja bahkan dari luar negara, ya namanya pesta kampung sih tapi tetap lho bintang tamunya gak main-main, sekelasnya STING dan Deep Purple bisa banget jadi bintang tamunya, pokoknya gokil lah.

Karena namanya pesta di kampung ya diadainnya juga biasanya di tengah-tengah alun-alun kota, dan pesta ini biasanya berjalan selama 3 hari minimal dan ada juga yang sampai 2 mingguan. Coba bayangin tiap malam selama 2 minggu ada party di kampung kamu tinggal, saya sih berasa seru banget.

Suikerrock di kota Tienen- ini penampakkan alun-alun yang dipakai jadi area festival


Tahun ini saya datang ke 2 pesta kampung yang namanya Lokerse Feesten dan Suikerrock. 
Sesuai namanya Lokerse Feesten adanya di kota Lokeren  dan Suikerrock adanya di kota Tienen yang adalah kota penghasil gula, jadilah nama pestanya juga ada suiker nya alias gula.
Lokerse Feesten ini diadakan selama 2 minggu, dan di antara pengisi acara yang saya ingat ada Limp Bizkit, Faithless dan beberapa musisi Belgia yang lagi ngetop di dunia juga seperti Selah Sue dan Lost Frequencies.
Sedangkan di Suikerrock saya kepengen banget nonton The Corrs dan ada juga Deep Purple, Roxette, David Gilmour nya Pink Floyd dan masih banyak lagi.

Untuk festival musik di atas tiketnya masih bisa terbilang murah sekitar €45 per hari, dan bakal lebih murah kalau belinya combo gitu.

The Corrs at Lokerse Feesten

Waiting for Faithless at Lokerse Feesten


Tahun-tahun sebelumnya kita juga rajin nonton festival musik Rock Werchter, nah ini salah satu festival musik musim panas yang paling ngetop juga di Eropa, diadainnya di kota Werchter selama 4 hari berturut-turut, karena festival ini lumayan ngetop, tiketnya jadi agak mahalan dikit yaitu sekitar €100 per orang , tapi tetap reasonable price sih karena musisi yang bakal manggung dalam sehari itu sekitar 20 musisi di beberapa panggung yang berbeda.

Untuk tahun ini ada Paul Mc Cartney, Ellie Goulding, Years & Years, Kaiser Chief, The Offspring, Red Hot Chili Peppers, Editors, Florece + The Machine, Macklemore & Ryan Lewis, and many more ! Gimana udah pusing kan baca line up nya. That s it ! I love to stay in Belgium during summer really :)

Dance Festivals

Selain festival musik yang di kota-kota di Belgia seperti yang saya tulis di atas, pastinya summer gak lengkap tanpa dance festivals, emang deh Europe itu pro banget kalau urusan pesta, no wonder ya DJ - DJ ngetop dunia lahirnya dari Eropa semua ( Saat ini DJ nomor 1 dunia Dimitri Vegas & Like Mike berasal dari Belgia,  ) dan dance music itu seperti layaknya bagian dari kultur bangsa.

Dimitri Vegas & Like Mike on Tomorrowland 2016 via


Kalau nyebut dance festival pasti deh ya para partygoers tahu dance festival paling hits di abad ini adalah Tomorrowland, ngomongin Tomorrowland ini seru banget karena lokasinya kan deket banget sama rumah kita tinggal, 1 kilometer nyampe deh di pintu masuknya. Diadakan selama 3 hari berturut-turut atau extra 1 hari sebelum acara untuk mereka yang datang dari belahan dunia lain. Ini serius banget, paket Tomorrowland ini dibeli banyak orang mulai dari Australia, Brazil bahkan ya Indonesia dong ya. Dan untuk yang datang dari Spanyol itu karena banyak banget juga kadang mereka menguasai satu pesawat untuk mereka sendiri, jadilah pesta sudah dimulai sejak di atas pesawat, kita berdua karena suka sama dance music jadi suka nonton dan update dengan video-video ini.

https://press.brusselsairlines.com/brussels-airlines-flies-the-world-to-tomorrowland#
via


Tomorrowland sendiri sudah 3 atau 4 kali saya dan suami saya datengin, dan memang sih serunya kebangetan, mulai dari dekorasi, lighting, dan tentunya performance dari DJ-DJ yang mengisi panggung benar-benar top notch semua. Pokoknya Tomorrowland tuh berasa Disneyland untuk partygoers deh.

Di Belgia sendiri Tomorrowland bukan satu-satunya dance festival, masih banyak banget juga dengan skala yang sama besarnya seperti Tomorrowland, seperti Laundry Day, Pukkelpop dan masih banyak lagi.



Live on TV & Fun for Everyone

Beneran deh kurang gokil apa kalau festival-festival ini disiarin di TV lokal selama berlangsung, so you can dance from your sofa at home. Yang paling seru sih waktu Tomorrowland dan kita nonton juga dari TV, dan pas ada fireworks kita bisa lihat fireworks dari teras belakang dan musiknya dari TV, kek beneran ada di lapangan aja kan.

Pesta disini beneran secara harafiah ajang untung having fun, jadi jangan heran kalau lihat anak-anak kecil  beredar di lokasi festival lengkap dengan penutup telinga supaya aman untuk telinga mereka. Fun things memang untuk semua orang, kecil atau besar.

Begitupun untuk mereka dengan keterbatasannya seperti mereka yang duduk di kursi roda atau sedang sakit, ada area khusus dekat panggung yang disediakan untuk mereka ini.  


Pukkelpop via


Kalau ditanya summer festival apa yang ingin saya datangi sepertinya Coachella di California asyik juga ! :-)




* * *

#CeritaJalanAsik is a weekly travel theme where we share our travel stories based on a certain theme by Jalan2Liburan, Nyonya Sepatu and Dream Explore Wander. Check out our posts every Wednesday!

This week’s theme: Concert and Festival