Trip to Bursa, Turkey
Karena secara geografis Turki yang berada di antara Eropa dan Asia, kerap kali menjadi destinasi transit kalau kita traveling, seringnya transit kalau kita ke Jakarta atau mau traveling di Asia Tengah. Bandara Istanbul juga jadi hub paling ramai karena banyak maskapai yang melewati Istanbul. Inilah salah satu alasan beberapa kali kita datang ke Turki, sebelumnya memang pernah traveling lama banget di Turki, sampai ke perbatasan Syria sana, dan traveling-traveling singkat seputaran Turki.

Terakhir kami traveling ke Azerbaijan, lagi-lagi saya mencari tiket pesawat yang transit di Istanbul, transit disini artinya extend beberapa hari supaya kami bisa menjelajahi Turki lainnya yang belum pernah kami kunjungi sebelumnya.

the view all the way from Istanbul to Bursa

First glance of Bursa

Alternatif berlibur di Turki yang dekat dengan Istanbul, ya ke Bursa Aja

Setelah melihat dan mengecek jarak antar kota di Turki, pilihan kunjungan kali ini adalah mengunjungi kota Bursa. Bursa terletak sekitar 150 kilometer dari Istanbul dan dapat dengan mudah ditempuh dengan bus umum atau kapal feri, jadinya destinasi yang tepat kalau kamu hanya punya waktu singkat di Turki tapi ingin melihat kota lain.

Menit pertama berada di Bursa, saya bisa merasakan kalau kota ini lebih terasa tradisional dan tidak segemerlap Istanbul. Justru seru banget ya karena ambiancenya berbeda.
Bursa adalah kota dengan populasi terbesar keempat di Turki dan sejarah kota ini telah ada sejak tahun 4000 Sebelum Masehi.
Bursa sebelumnya dinamakan Prusa yang berasal dari nama raja Perseus, setelah kekaisaran Ottoman mengambil alih, berubah nama menjadi Bursa dan merupakan ibukota pertama Kesultanan Ottoman.

✅Tour The Mosques

Pernah menyandang predikat sebagai ibukota Turki Usmani, pesona kota Bursa tentunya sangat memikat dengan hadirnya banyak monumen bersejarah. Salah satu monumen yang terpenting dan jadi sightseeing paling ngetop di Bursa adalah Ulu Camii. 
‘Ulu' berarti tinggi / agung, sedangkan 'Camii’ adalah Masjid, maka Ulu Camii berarti Masjid Agung.
Sangat mudah menemukan masjid seluas 2215 meter persegi ini karena tepat berada di jantung kota Bursa, Atatürk Bulevard yang ramai dikunjungi orang lokal karena berdekatan dengan bazaar Koza Han yang menjual ragam sutra.

Masjid Agung Bursa adalah masjid terbesar di Bursa yang sangat kental akan seni arsitektur khas Seljuk, dibangun atas perintah Sultan Yildirim Bayezid antara tahun 1396 sampai 1399. Sang Sultan pernah bernazar jika ia memenangkan perang Nicopolis maka ia akan membangun 20 masjid, setelah kemenangan dicapai, para penasihat Sultan menyarankan untuk membangun masjid dengan 20 kubah dengan ukuran sama besar dan diapit dengan 2 menara. Ari Neccar mendesain dan membangun masjid ini mulai tahun 1396. Selesai sekitar pada tahun 1399.


Green Mosque in Bursa, Turkey


Memasuki ruangan utama Ulu Camii, akan terlihat sebuah kolam dengan air mancur yang berfungsi sebagai tempat berwudhu dan ketika musim panas dijadikan pendingin udara, dalam bahasa lokal disebut 'sadirvan', letaknya tepat setelah melewati pintu utama di bawah kubah kaca yang menjadi sumber cahaya matahari yang menerangi seantero ruang masjid.

Di dalamnya Masjid Agung Bursa memiliki 192 kaligrafi yang dibuat tangan oleh 41 ahli penulis kaligrafi ternama saat itu, ditulis di bagian dinding masjid dan pilar-pilarnya, sedangkan pintu dan mimbar dibuat oleh ahli pemahat dari jenis kayu pilihan.

Tidak jauh dari Ulu Camii, terdapat juga masjid dengan ukuran yang lebih kecil namun tetap mempesona, Karaşeyh Camii. Dibangun sejak abad ke 15 dari salah satu donatur yang tidak diketahui namanya. Pada tahun 1950 sempat digunakan sebagai perpustakaan dan masjid ini selesai direnovasi pada tahun 2000.

✅Belanja Sutra di Koza Han

Jalan-jalan di Turki yang paling terasa adalah selain banyaknya masjid dimana-mana, bazaar atau area perbelanjaannya juga banyak banget, malah jadi atraksi wisata juga. Nah kalau di kota Bursa, wisata belanja paling populer adalah Koza Han
Terletak di antara Masjid Agung dan Masjid Orhan, Koza Han ini dibangun oleh arsitek besar Abdul Ula Bin Pulat Sah sebagai landasan untuk karya-karya bersejarah di Istanbul atas perintah Sultan Ottoman Sultan Bayezid II yang selesai dibangun pada tahun 1491.

Walau telah berusia lebih dari 500 tahun, Koza Han tetap berdiri sempurna dengan desain arsitektur yang menawan, lengkungan pilar dan halaman di lantai dasar yang dihiasi air mancur dan dipenuhi para pengunjung yang duduk-duduk santai menikmati secangkir Çay hangat dan penganan manis khas Turki, Baklava.

Koza Han Bursa Turkey

Koza Han Silk Centre in Bursa Turkey

Shopping Bazaar at Bursa, Turkey


Awal fungsi dari Koza Han adalah sebagai penginapan dengan jumlah 95 kamar dan sekaligus pasar penjualan sutra. Namun sekarang Koza Han dikhususkan untuk menjual produk ragam sutra berkualitas, mulai dari kain sutra untuk kerudung, jilbab, syal dan lainnya. Bukan saja produk sutra dari Turki yang dijual disini tapi juga dari Cina dan Iran.

Koza Han buka pada setiap hari mulai pukul 08:00 hingga 19:30. Walaupun harga sutra yang dijual di Koza Han cenderung lebih murah dibanding toko lain, tetap siapkan ketrampilan menawar karena seringkali penjual memberi diskon tambahan, selain itu mesti jago juga sih ya melihat kain sutra yang asli yang mana.  


🍖🍗Kuliner di Bursa, Turki

Tiada kesan jalan-jalan ke Turki jika tidak menikmati kuliner asli Turki. Iya, apalagi kalau bukan kebab. Banyak jenis kebab yang bisa Anda temukan di Turki, seperti misalnya jika Anda berada di kota Bursa, Turki, maka yang lazim ditemukan adalah Iskender Kebab.
Nama kebabnya seperti nama orang ya?! Betul sekali, karena penemu kebab ini adalah seorang pria bernama Iskender Efendi, seorang tukang daging yang pada tahun 1867 menemukan cara membuat kebab dengan versi lain.

Iskendar memilih daging domba yang di pelihara di uludag, sebuah kawasan dataran tinggi yang menghampar di sebelah selatan Bursa, lalu daging pilihan tersebut dipanggang di atas di atas pemanggang vertikal dan setelah matang, daging tersebut diiris tipis untuk siap disajikan.
Pada saat disajikan daging kebab diberi saus tomat, mentega cair, dan yoghurt.

Karena resep temuannya tersebut, nama iskander pun jadi terkenal kota Bursa bahkan seantero dunia. Bermunculan lah restoran-restoran sejenis yang menyajikan menu serupa.

Dimanapun di kota Bursa kita dapat menemukan restoran yang menyajikan iskender kebab seperti aslinya, bahkan kita bisa menengok cara pembuatannya karena biasanya dapur di restoran Turki adalah dapur jenis terbuka dimana pengunjung bisa melihat aksi koki di dapur.

Selain Iskender kebab, kuliner yang khas di Bursa justru adalah sarapan paginya. Bukan orang Inggris saja yang tahu istilah English breakfast, orang Turki juga lho, merekapun bangga dengan sajian menu sarapan yang biasa mereka nikmati tiap hari.
Orang Turki memberi sebutan sarapan dengan istilah “'Kahvalti”, yang berarti '”sebelum kopi“ , jadi pada saat makan pagi mereka lebih memilih segelas teh Turki dibandingkan kopi sebagai teman makan.

Banyak kedai kopi dan hotel di kota Bursa yang menawarkan sarapan pagi seperti ini, tradisi sarapan sehat memang telah ada sejak turun temurun, orang Turki cenderung memilih menyantap sarapan bersama keluarga karena disaat itulah mereka saling berbincang sebelum memulai hari.

Yang menyenangkan dengan sajian sarapan di Turki adalah ragam makanan yang disajikan beragam dalam porsi sedang, produk yang dipilihpun segar.
Adapun sajiannya berupa potongan tomat, ketimun, buah zaitun, keju putih, paprika, gulungan daun anggur, roti yang fresh, telur goreng, dan untuk rasa yang manis biasanya hadir melalui madu, selai buah dan buah kering.
Dan jangan lupa, roti adalah menu wajib di setiap makanan orang Turki.

Tampilan makanan pagi yang cantik, dan pastinya bergizi karena di setiap produk mengandung nutrisi dan asupan serat yang diperlukan tubuh seperti protein, karbohidrat dan lemak.




Prancis tidak mengenal kapan musim terbaik untuk dikunjungi karena setiap musim menawarkan pesona dan ambiancenya tersendiri. Bulan Oktober adalah bulannya musim gugur dimana banyak tumbuhan yang berubah warna dari kehijauan menjadi kuning dan merah. Musim gugur banyak disukai oleh turis dari negara tropis karena terkesan sangat romantis dan eksotis. 

Regio terbaik untuk menikmati indahnya musim gugur di Prancis adalah di regio Alsace, Prancis Timur, disini kita bisa menyusuri hektaran ladang buah anggur yang terbentang luas di depan mata. Rasanya baru kali ini saya melihat ladang bunga anggur berwarna kuning, biasanya saat musim dingin atau musim panas, ternyata warna ladang yang menguning sungguh cantik luar biasa. Apalagi kontur ladang ini seperti berbukit, naik turun tinggi rendah, 

Route des vins d'Alsace adalah salah satu rute kebun anggur tertua di Prancis, menawarkan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan anggur dan kebun anggur sepanjang tahun. Rute ini berjarak 170 kilometer dari utara ke selatan, melewati 70 desa cantik yang dilalui ladang anggur, desa-desa ini pun menjadi favorit banyak wisatawan untuk menghabiskan waktu berlibur, sebut saja desa Kayserberg, Colmar, Ribeauvillé, Riquewihr dan masih banyak lagi.
Dari bulan April sampai Oktober, desa-desa mengorganisir festival panen anggur diramaikan dengan kesenian rakyat. 

Ladang yang menguning dan mudah diakses membuat banyak orang melakukan aktifitas seperti bersepeda atau tracking menyusuri ladang-ladang ini, sambil sesekali berhenti melihat bangunan tua di sekitarnya.

Jika punya waktu pastinya berhenti di setiap desa sangat menyenangkan ya, strolling around without hurry, sayangnya kebanyakkan kita seringnya memiliki waktu terbatas sehingga memilih desa yang paling ok untuk dikunjungi wajib hukumnya.






Strasbourg  

Strasbourg merupakan ibukota provinsi Alsace di Perancis Timur dan terletak sekitar 20 km sebelah timur pegunungan Vosges, dan jadi salah satu desa pemberhentian kita. Di antara beberapa desa yang kami datangi, Strasbourg ini sih ibaratnya kota banget ya, ramai dan areanya sangat lebih besar. 

Bicara mengenai sejarah, provinsi Alsace sempat beberapa kali mengalami perubahan kekuasaan, wilayahnya sempat diambil alih oleh kekuasaan Jerman pada tahun 1871, dan kemudian pada kesepakatan perjanjian Versailles pada tahun 1919 mewajibkan Jerman untuk mengembalikan regio ini pada Prancis, tidak mengherankan sangat terasa perpaduan budaya antara Jerman dan Prancis disini, bahkan bahasa yang digunakan pun adalah Prancis dan Jerman. 





Katedral Strasbourg menjadi salah satu daya tarik wisata terbesar di Strasbourg, bangunan dengan gaya arsitektur Gothic ini memulai pembangunannya pada tahun 1015 dan selesai dibangun pada tahun 1439 dengan ketinggian seluruhnya mencapai 142 meter. Gereja ini pernah menjadi bangunan tertinggi di dunia selama kurang lebih 227 tahun, yakni pada tahun 1647 sampai tahun 1874.

Magnet wisata berikutnya adalah area kanal yang diberi nama La Petite France, berada di area ini pastinya akan memakan banyak memory card kamera Anda karena setiap pojok terlihat sangat cantik dan sayang jika dilewatkan untuk tidak didokumentasikan. 
Dulunya area kanal ini merupakan area kumuh, bau dan kotor, tempat dimana pabrik penyamakkan kulit berada, lalu kemudian pada pertengahan abad ke 20, La Petite France bertransformasi menjadi destinasi wisata yang membanggakan.

Banyak cara menjelajahi desa kuno Strasbourg ini, mulai dengan naik kereta mini, bersepeda bersama grup atau naik kapal menyusuri kanal. Cara terbaik dan tentunya gratis adalah dengan berjalan kaki santai, menikmati romantisme di setiap sudut Strasbourg yang memanjakan mata. 

Riquewihr

Tahu film Beauty and The Beast yang diproduksi Disney? Di film ini diceritakan mengenai seorang gadis cantik bernama Belle yang tinggal di pedesaan Prancis dengan latar belakang tahun 1800an. Film ini mengambil ceritanya dari buku dongeng berjudul La Belle et la Bete karangan Gabrielle-Suzanne Barbot de Villeneuve yang dirilis pada 1740.

Desa tempat tinggal Belle itu ternyata bukan hanya hasil rekayasa animasi saja lho, karena sesungguhnya desa tersebut nyata dan Anda bahkan bisa mengunjunginnya. Desa itu bernama Riquewihr dan terletak di Prancis Timur. 

Seperti halnya animator Disney yang juga terpesona dengan Riquewihr dan menjadikan desa ini sebagai inspirasi pembuatan film Beauty and The Beast, Anda pun akan tersihir jika berada disini, menyusuri gang-gang kecil yang nyaman seperti berjalan di dunia buku cerita penuh warna. 

Riquewihr dikelilingi tembok yang mengitari area kota tuanya, disini kita juga dapat melihat alun-alun mungil lengkap dengan clock tower bernama The Dolder Tower dan air mancur. Desain interior bangunan di Riquewihr disebut dengan timbered house atau rumah berpalang kayu, dari balkoni setiap bangunan kita dapat menikmati indahnya bunga-bunga beraneka ragam dan warna.



Tersedia puluhan kedai kopi dan restoran yang berebut menjual suasana sehingga turis pasti akan kesusahan akan memilih ingin makan siang dimana, imut, cantik dan yang pasti instagramable sekali. Jika cuaca memungkinkan, teras di pinggir jalan siap dipenuhi meja dan kursi. 

Sempatkan juga mencicipi Kugelhopf atau sejenis kue bolu lembut yang bisa Anda beli di toko roti di Riquewihr, kue bolu khas area setempat ini dapat Anda beli per potong atau per loyang. Saking ngetopnya Kugelhopf ini, loyangnya pun banyak dijual dan dijadikan suvenir dari Riquewihr.

Colmar

Selain Strasbourg yang memang sangat terkenal, kota lainnya sudah pasti Colmar. Untuk turis Indonesia, Colmar ini pasti sudah sangat familiar ya, ini karena di Malaysia juga ada Colmar, well versi KW nya lah ya, karena hanya untuk taman wisata aja, dan di Prancis inilah Colmar aslinya berada.

Di Colmar, selain kanal yang melewati kota tuanya, interior bangunannya adalah pemikat para pelancong yang berkunjung kesana karena keunikannya. Rumah tradisional berpalang kayu yang biasanya dilengkapi dengan balkoni ini disebut dengan timbered house.  Timber atau balok kayu memang terlihat dengan jelas menyerupai kerangka rumah, dibaliknya ada material-material penguat seperti batu bata dan plaster. Hal ini berbeda dengan konstruksi rumah jaman sekarang yang biasanya menyembunyikan kerangka.  Sebagai unsur dekoratif, para pemilik rumah biasanya memberikan cat dengan warna yang mencolok dan kontras antara kerangka kayu dan dindingnya, semakin kontras justru semakin menarik dan pastinya jadi spot yang instagramable banget ya.






Rumah tradisional regio Alsace ini banyak dijadikan pernak-pernik suvenir juga lho, so jangan lupa dibeli sebagai oleh-oleh ya, dan tentunya keju yang juga banyak dijual yang berasal dari hasil pertanian sekitar. 

Karena letaknya yang dialiri kanal, pelancong bisa menikmati kota Colmar dan keunikan rumah-rumah berpalang kayu ini dengan menggunakan kapal kayu, berjalan kaki santai atau dengan kereta mini. Saya sih milih naik kapal, seru banget bisa foto dari sisi yang berbeda dan biaya tiketnya juga terjangkau. 




Siapa yang menyangka kalau Turki menjadi salah satu negara yang kami datangi berkali-kali untuk kemudian dijelajahi sepuasnya, Turki ini seperti Maroko yang menyenangkan, sekali datang tidak akan puas. Jika ada kesempatan untuk hideaway, biasanya saya langsung melirik aplikasi pencarian tiket menuju salah satu kota disana, apalagi cuaca di Turki yang sering kali lebih hangat daripada di negara saya tinggal. 

Suatu hari di Cappadocia Turki, kami menghabiskan sore sampai malam di gedung seni Saruhan untuk menyaksikan pergelaran tari Whirling Dervishes. Kami tiba sebagai pengunjung pertama dan kemudian disusul satu bus penuh rombongan turis dari Meksiko. Ini pertama kali kami melihat tarian indah Whirling Dervishes. Dalam hati saya berjanji jika ada kesempatan lagi saya tidak akan melewatkan menyaksikan kembali tarian ini. 
Itu janji saya beberapa tahun lalu, sampai akhirnya Turki kembali mengucapkan selamat datang ketika kami kembali mengunjunginya di penghujung tahun lalu. Saya memilih kota Bursa, saya tahu Bursa karena di peta yang saya lihat letaknya cukup masuk akal jika ditempuh dari Istanbul yang sudah beberapa kali kami sambangi. 



Janji melihat kembali tarian Whirling Dervishes akhirnya terpenuhi, jauh lebih dahsyat dari yang kami tonton di Cappadocia, karena di Bursa tarian ini menjadi bagian dari ritual harian para jemaah disana, bukan sebagai atraksi wisata para rombongan turis yang kadang menonton sambil mengantuk bahkan tertidur. Walaupun demikian, pintu mereka tetap terbuka dengan lapang, kami datang sekitar jam 19:30 karena acara akan dimulai jam 20:00 tepat. 

Secangkir teh Turki hangat dibagikan gratis untuk para yang datang. Sebelum jam 20:00 kami pun memasuki ruangan, saya naik ke balkon di tempat para perempuan duduk, dan suami saya duduk di bawah bersama para pria lainnya. Saya lihat dari atas ia telah asyik berkawan dengan pria-pria lokal, nampaknya hanya kami berdua turis yang datang hari itu. 
Saya menginsyaratkan supaya suami saya bertanya atau tepatnya minta ijin kepada orang sekitar kiranya boleh ia mengambil foto dan video saat acara berlangsung, dan responds yang sangat menyenangkan karena mereka mempersilahkan. 



Suasana hening, syair pujian mengalun teduh, dengan gerakkan putaran jubah putih, siapapun akan terlena mengikuti gerakkan para penari Whirling Dervishes ini, musik dimulai dan terus terang bulu kuduk saya berdiri saking syahdunya.

Whirling Dervishes berarti para darwis yang berputar-putar, atau bisa juga disebut dengan tarian sema, tarian yang terinspirasi dari penyair bernama Jalaluddin Rumi.
Berdasarkan sejarahnya, Rumi melakukan tarian ini pertama kali ketika guru spiritualnya meninggal dunia dan untuk mengekspresikan kesedihannya ia melakukan tarian Sufi sebagai bentuk eskpresi kesedihannya sambil melantunkan syair - syair puitis akan kecintaannya kepada Tuhan.


Tarian diawali dengan para Sufi mengenakan jubah hitam dan selanjutnya dilepas sehingga terlihat jubah dominan warna putih. Satu sama lain membungkuk dan menyilangkan kedua tangan di dada.
Secara pelahan para penari akan berputar lembut ke arah kiri sebagai simbol gerakan alam semesta, dengan tumit kaki sebagai tumpuan. Tangan kanan menghadap ke atas dan tangan ke kiri ke bawah, memiliki filosofi berkah Allah diterima oleh telapak tangan kanan dan disebarkan ke seluruh makhluk oleh tangan kiri.

Setiap atribut yang dikenakan para penari juga bukan tanpa makna. Topi Sikke yang memanjang ke atas melambangkan batu nisan, jubah hitam sebagai simbol alam kubur dan baju putih adalah simbol kain kafan, sebagai pengingat manusia akan kematian sehingga dengan demikian lebih mudah untuk mengendalikan hawa nafsu duniawi.

Para penari bertahan lama melakukan putaran tersebut tanpa rasa pusing karena selalu berlatih dengan cara berdzikir dan bershalawat nabi, dengan demikian para penari Sufi tidak akan pusing karena ditubuhnya sudah teraliri rasa cinta yang mendalam kepada Allah.

Pertunjukkan Whirling Dervishes banyak digelar di kota-kota di Turki, dan yang uniknya di kota Bursa, Turki, para penarinya bukan hanya orang dewasa tapi juga anak-anak, remaja sampai orang dewasa.

Pertunjukkan Whirling Dervishes ini gratis dan diadakan setiap malam mulai jam 8 malam di Culture Centre Of Karabas-i Veli. Bangunan ini telah ada sejak tahun 1550.







Dari berbagai persiapan sebelum traveling, salah satu tahapan yang saya suka banget adalah mencari penginapan jauh-jauh hari, tentunya setelah punya tiket di tangan dan dokumen seperti visa telah diurus ya. Penginapan itu memang memerlukan waktu dalam pencariannya, gimana ga makan waktu coba kan, harus cek dimana lokasinya, ada fasilitas apa aja dan yang paling penting adalah membaca satu per satu review yang ditulis oleh tamu-tamu sebelumnya yang pernah menginap disana.

Di sisi lain saya juga maunya buru-buru melakukan reservasi, karena biasanya early rate lebih murah jika dilakukan jauh-jauh hari, dan tentunya mengantisipasi supaya penginapan yang saya incar gak kehabisan kamarnya.

Saat ini kebetulan keluarga besar saya sedang disibukkan dengan rencana pernikahan cucu dari papi mami saya, kebetulan ini cucu pertama yang akan melangsukan pernikahan, jadi otomatis semua orang di keluarga sangat excited.

Lokasi pemilihan pesta pernikahan rencananya akan diadakan di Bali di bulan Agustus mendatang. Bisa dibayangin dong Agustus adalah salah satu bulan high season di Bali, karena bulan ini wisatawan mancanegara liburan anak sekolah di negaranya sana, ditambah pula bakalan ada long weekend 17 Agustusan.

Tentunya salah satu hal yang paling penting untuk diurus jauh-jauh hari adalah mencari penginapan untuk seluruh keluarga, masalahnya di antara beberapa anggota keluarga ada yang masih harap-harap cemas menunggu persetujuan cuti dari kantor, jadinya ya antara ragu-ragu mau pesen hotel dan bayar dimuka eh tahu-tahu gak bisa kabur dari kantor, wah melayang deh uang hotel.


Nah di saat-saat seperti ini untung banget ada fasilitas baru dari situs Traveloka yang menawarkan 'pay at hotel', sesuai namanya fasilitas ini memungkinkan tamu untuk memesan kamar tanpa harus membayar terlebih dahulu. Pembayaran dapat dilakukan nanti pada saat menginap di properti tersebut, baik secara tunai maupun dengan kartu.


Caranya tuh gampang banget, basically sama kayak kalau kita mau reservasi hotel gitu kok :

1. Masuk ke situs Traveloka
Lalu klik 'hotel' dan masukkan di kolom pencarian kota atau nama hotel yang kamu tuju. Dan dilanjutkan dengan memasukkan tanggal kapan check in dan check out

2. Setelah mesin pencarian mengeluarkan hasil daftar di lokasi yang dituju, kita tinggal klik di 'pay at hotel', ini semacam filter hotel-hotel apa aja yang memungkinkan tamu untuk menggunakan fasilitas pembayaran langsung on the spot seperti ini.



3. Jika sudah memilih hotel favorit, selanjutnya tinggal mengisi formulir yang berisikan data diri dan nomor kartu kredit. Eitssss, jangan salah dulu, kartu kredit di sini bukan berarti kamu akan dikenakan tagihan ya. Detil kartu kredit perlu diisi sebagai jaminan kamar yang akan kamu pesan. Jadi, kartu kredit kamu tetap aman kok. Jika proses berhasil, Traveloka akan mengirimkan voucher hotel dari reservasi yang kita lakukan. See, gampang banget.




4. Nah kalau seandainya pada hari H karena satu dan lain hal kita tidak bisa pergi sesuai rencana sebelumnya, namanya juga manusia berencana Tuhan yang menentukan, reservasi tersebut bisa kita cancel sebelum hari H melalui customer servicenya Traveloka. Menariknya, kamu tidak akan dikenakan biaya apa-apa lho. Tapi, selama masih dalam syarat dan ketentuan masing-masing hotel ya. Jadi, kamu perlu teliti saat memesan.

“ Pay At Hotel “ Cocok Juga Untuk Proses Pengajuan Visa Lho !


Satu tips lagi nih dari saya untuk kamu-kamu yang lagi mau apply visa, apakah itu visa Schengen, Australia atau Amerika. Salah satu syarat yang wajib disertakan saat melakukan proses pengajuan visa-visa negara tersebut adalah dengan melampirkan voucher hotel tempat kalian menginap selama berlibur disana.



Dengan memesan hotel dengan menggunakan feature “pay at hotel” semacam ini pastinya akan membuat kamu tenang, tenang dalam artian kalau seandainya ( knock on the wood ) visa tersebut tidak disetujui oleh pihak kedutaan, kamu tidak akan kehilangan uang dari pemesanan hotel tersebut karena kamu bisa cancel reservasi dengan mudah melalui metode “pay at hotel”nya Traveloka ini.






Belanda di mata wisatawan mancanegara memiliki 1001 pesona, bukan saja kota-kotanya yang metropolis dan bangunan kuno yang masih terawat sangat baik tapi juga Belanda memilik banyak desa unik yang menarik untuk dikunjungi, salah satunya adalah desa Giethoorn yang berlokasi sekitar 2 jam berkendara dari Amsterdam

Keunikkan dari desa Giethoorn adalah desa ini bebas dari asap polusi kendaraan bermotor karena di desa ini memang tidak memiliki akses jalanan untuk kendaraan, yang tersedia hanyalah kapal karena desa ini dikelilingi kanal-kanal dan 176 jembatan yang menjadi jalur pejalan kaki dan sepeda.
Jika pengunjung tiba dengan kendaraan bermotor maka sedianya kendaraan tersebut dapat di parkir di luar area desa untuk selanjutnya dapat menyewa kapal, berjalan kaki atau naik sepeda. Udah bisa dibayangin kan damainya desa ini, beda banget sama hiruk pikuknya Amsterdam. 












Biaya sewa kapal untuk 2 jam adalah 30 Euro atau setara dengan Rp.500.000,- , kapalnya sangat mudah dioperasikan tanpa pemandu kok alias kita bisa nyetir santai sendiri. Kapal-kapal yang disewakan di Giethoorn memiliki mesin yang nyaris tidak bersuara sehingga disebut dengan julukan whisper boats atau kapal yang berbisik. Hal ini untuk menjaga supaya tidak ada polusi suara di area desa Giethoorn yang sampai sekarang masih ditinggali orang lokal, tidak heran jika suara angsa dan burung sangat merdu terdengar dengan jelas, suasana yang sangat cocok untuk beristirahat bersama keluarga sambil menikmati arsitektur rumah kayu tradisional khas Belanda di desa yang telah ada sejak tahun 1230 ini.



Kalau masih belum PD untuk sewa dan nyetir kapal sendiri, worry not, karena ada juga tersedia semacam public boat dengan pemandunya, untuk kapal jenis ini biayanya €7 untuk per orang, kalau saat low season sepertinya tiket akan selalu tersedia, sedangkan saat high season dan weekend bisa di reservasi tiketnya secara online, bisa di cek disini ya : http://www.smitgiethoorn.nl/english/ , kebetulan saya awalnya mau pakai yang public boat ini dengan perusahaan tersebut tapi keknya lebih seru kalau bisa explore dan nyetir kapal sendiri.
Untuk yang datang dengan kendaraan, mobil kalian bisa diparkir juga kok di plataran parkir dari restoran Smit ini , plus toiletnya juga banyak dan baru di dalam restoran. Sebelum jalan-jalan dengan kapal atau sesudahnya, bisa juga makan siang di restoran ini.



Di Giethoorn tidak ada hotel berbintang, melainkan beberapa penginapan bed and breakfast yang sederhana namun nyaman, dilengkapi juga dengan restoran, kedai kopi, toko penjual suvenir dan 2 museum yaitu museum Het Olde Maat Uus dimana pengunjung melihat bagaimana rumah pertanian khas di Giethoorn pada seabad yang lalu, dan museum de Oude Aarde yang menampilkan koleksi batu permata dan mineral.





Dan akhirnya pun Iceland! Lebay gak sih kalau saya bilang kita pengen banget ke Iceland sudah dari lama, jauh dari sebelum film Mitty muncul dan bikin Iceland kebanjiran turis. Saya masih ingat beli buku panduannya juga sudah dari lama tapi ada aja halangannya sampai akhirnya baru kejadian pergi ke Iceland awal tahun ini. Malah kita sempat berencana untuk menempatkan Iceland sebagai negara terakhir di Eropa yang bakal kita kunjungin, karena sebenarnya tidak begitu banyak negara di Eropa yang belum kita datangi, we are working on it, dan salah satunya adalah Iceland ini.

Oh well, rencana menempatkan Iceland sebagai negara terakhir di Eropa untuk dikunjungi ternyata gak kejadian, justru hadir di waktu terbaik yaitu sebagai trip ulang tahun saya yang ke hmmmm rahasia :) dan karena ulang tahunnya dekatan sama Valentine, so yeah kita memulai trip ke negara Ice and Fire ini tepat di tanggal 14 Februari yang lalu.

Tanggal keberangkatan boleh aja romantis, sayangnya maskapai penerbangannya gak seromantis itu, diawali delay berkepanjangan dan diakhiri dengan koper saya yang gak tiba di Reykjavik. Perih bo, semua winter gear saya ada disitu, tripod ada di dalam koper, dimana malamnya saya perlu banget untuk foto Aurora. Untungnya snow boots sudah saya pakai sejak dari rumah. 
Inilah challengingnya traveling saat winter yang keras, tahun ini musim dingin memang agak lebih menggila, beberapa kali badai salju dan apalagi di Iceland kan ya. Akibat badai salju ini membuat pintu pesawat tidak bisa dibuka, pintu dimana bagasi penumpang disimpan. Ini kejadian biasa menurut mereka, begitupun dengan pintu mobil yang kadang tidak bisa dibuka karena es yang bagai perekat antar elemen di pintu tersebut.

Tiba di Reykjavik dengan dramanya itu tentunya bikin mood agak on off, this is the moment you gotta handle all of those mood by yourself, heck I wont let this stuff ruined my trip. Namaste! I m back to the normal mood and so excited to explore the country.


Sampai di AirBnB yang nyaman banget mood saya semakin tambah ok, cepat-cepat mandi, suami saya ke supermarket untuk beli keperluan toiletries, setelah mandi tubuhpun jadi bersih dan otomatis hangat, siap untuk hunting Aurora malam itu juga.

Kami bergabung dengan trip pencari Aurora dari travel organizer di Reykjavik, dijemput di dekat AirBnB sekitar jam 8 malam dan mulai deg-degan kayak mau ketemu pacar, serius. Rasanya semua peserta trip malam itu sama seperti saya, di belakang saya ada yang ribet banget dengan setting kameranya, ada yang gelisah ha ha ha lucu banget situasi malam itu menuju tempat dimana bus kita akan parkir dan mulai menunggu hadirnya Aurora. Saya sih ya sudah siap dengan kemungkinan gak akan bisa foto Aurora karena salah satu syarat foto Aurora adalah dengan tripod, padahal saya sudah belajar setting kameranya sebelum berangkat, gapapa, mungkin kalau Aurora beneran hadir artinya benar-benar harus saya nikmati.

Pemandu wisata kita ini kocaknya minta ampun, spiritnya luar biasa untuk nyemangatin kita kalau seandainya Aurora gak muncul, kita bisa ikutan lagi trip berikutnya sampai kita bisa lihat dan trip pengulangan itu tentunya gratis, jadi bikin hati tenang juga lah ya, namanya juga excursion di Iceland ini amit-amit mahalnya.

Sebelum tiba di puncak national parkÞingvellir (Thingvellir) tempat dimana bus kita akan parkir, pemandu wisata sudah wanti wanti dari awal kalau kita sama sekali tidak diperbolehkan menyalakan blitz kamera atau lampu apapun itu, layar hp juga seminim mungkin, karena jika ada cahaya sedikitpun maka Aurora akan menghilang.

It was a valentine night and universe gave us so beautiful natural phenomenon, ngeliat pelangi aja kita suka amaze ya, apalagi ngelihat garis-garis hijau di atas langit yang gelap seperti itu. Cant thank enough for that night, saya gak meminta alam untuk memberikan Aurora yang menari-nari dengan perubahan warna yang fantastis tapi yang kami lihat malam itu sudah cukup. We ve kissed not under the moonlight but under the Aurora. So grateful!

saya rasa kamu akan ketagihan ngajak nyari Aurora terus nih keknya” bisik suami saya yang saya yakin dia tahu banget saya over the moon. 

Probably yes”, I answered! ;-)

Aurora through my iPhone X



Merayakan satu dekade usia pernikahan pastinya kita menghadiahi diri sendiri dengan jalan-jalan dong, ini memang seperti ritual setiap tanggal 8 Desember, daripada bingung ngasih hadiah apa ke pasangan kita lebih prefer menggunakan budget beli hadiahnya untuk jalan-jalan aja, walaupun kok dipikir-pikir murahan ngasih kado ya daripada budget untuk tripnya ha ha ha Ah ini intermezo aja, kita berdua memang sepakat dari awal untuk bukan lebay sih tapi untuk mengingat salahsatu milestones dalam kehidupan berdua dan so far kita konsisten melakukan hal ini.

Sudah dari beberapa sebelumnya saya mengesksekusi tiket ke Israel untuk periode minggu di tanggal 8 Desember 2017 yang lalu, apa daya terpaksa tiketnya hangus karena visa Israel yang gak bakal saya terima tepat waktu karena paspornya saya pakai ke Azerbaijan dan Turki. Tahun ini jadi tahun terbanyak saya buang-buang tiket, sebelumnya tiket ke Lebanon sempat saya buang juga karena alasan serupa, yup visa Lebanon perlu lebih dari 3 bulan untuk ngurusnya, so bare in mind kalau kalian mau kesana.
Ya sudah ini yang namanya manusia berencana, visa juga yang menentukan ya, dibawa happy aja karena bersyukur banget masih bisa beli tiket untuk destinasi lainnya.

Anniversary trip yang awalnya telah saya arrange ke Israel, saya banting setir untuk cari destinasi yang punya syarat harus lebih hangat dari di Belgia, dan gak perlu visa deh untuk saya. Karena saya punya residence card negara Schengen, saya pun melirik Spanyol, rasanya sudah lama sekali tidak mengunjungi matador ini dan pastinya banyak propinsi yang belum saya lihat.
Saya pun membeli tiket ke Valencia, ini bukan destinasi pertama untuk suami tapi untuk saya iya, walaupun demikian kita tetap excited menyambut perjalanan ulang tahun pernikahan ke 10 ini.

Setelah tiket di tangan, hal selanjutnya yang saya cari adalah AirBnB, seperti biasa urusan penginapan saya suka banget yang unik dan cozy, walaupun ya baru terlihat di layar monitor ya, dan saya beruntung banget dapat AirBnB dengan lokasi yang strategis dan karena hostnya ini seniman dari Italia, jadi detail pernak pernik mereka sangat artistik sekali. 

Ngomongin host AirBnB yang dari Italia dan tinggal di Spanyol ini kok jadi mengingatkan saya kalau tepat setahun sebelumnya kan kita juga anniversary trip ke Sydney dan Melbourne, kok bisa ya ada hal yang mirip yaitu host AirBnB kita di Sydney juga orang Italia yang jadi imigran di Australia, coincidence banget ya :)


Karena kita hanya hideaway beberapa hari di Valencia ini, gak terlalu ambisius sih, walaupun demikian saya tetap bikin list mau ngapain dan kemana aja dalam waktu yang singkat. Untuk sightseeing spots yang regular biasanya sangat mudah ditemukan di artikel-artikel di internet, sedangkan untuk yang unik dan ga biasa, saya biasanya baca di buku Atlas Obscura, dan untuk rekomendasi kuliner dan makan dimana, saya biasanya nodong ke AirBnB untuk kasih tau ke kita rekomendasi restoran favorit mereka dimana!


Valencia = Festivals

Valencia itu terkenal sama festival-festival yang diadain rutin tiap tahun, banyak banget kalau saya baca agendanya. Nah kebetulan pas kita disana eh tanggal 8 Desember itu dirayakan sebagai The Feast of the Immaculate Conception, saya sebenarnya gak ngeh sih sama perayaan ini karena ini perayaan ini dirayakan oleh orang Katolik.
Saking pentingnya hari raya ini, kota Valencia sampai tumpah ruah sama pengunjung sudah dari pagi hari, misa di gereja-gereja keknya nonstop dan di alun-alun depan Katedralnya omg ramai banget.
Tapi yang seru banyak dari orang lokal yang pakai pakaian tradisional mereka lengkap gitu karena kebetulan juga banyak panggung hiburan.
Jadi ya tips nih kalau rencana ke Valencia harus lihat agenda festival dan perayaan deh karena bakal surprisingly awesome banget.





Hopping On Off churches

Namanya juga negara dengan mayoritas penduduk beragama Katolik, bisa dipastikan setiap jengkal ada bangunan gereja. Dari banyaknya gereja-gereja bersejarah di Valencia kami hanya masuk ke 2 gereja saja yaitu tentunya gereja Katedral lah ya sebagai yang terbesar di Valencia dan juga memiliki harta berharga yaitu cawan yang Santo Caliz.
Cawan ini dipercaya sebagai Holy Grail atau Cawan Suci yang digunakan Yesus sebelum kematiannya, tepatnya saat perjamuan terakhir.
Mengenai cawan suci ini memang banyak spekulasi karena banyak gereja yang bilang mereka juga punya cawan serupa, tapi dari karbon dan penelitian, keuskupan di Vatican membenarkan bahwa cawan suci yang dimiliki oleh Katedral Valencia adalah yang the one.
Kita muter-muter nyari di dalam gereja yang besar banget itu dimana mereka menyimpan cawan ini , sampai setelah kita bertanya ke pastur gereja yang pas kebetulan lewat. Ternyata di dalam gereja ada kapel mininya lagi, menurut saya sih lebih menarik karena intimate, atau mungkin karena di depan mimbar ada cawan tersebut? Terus terang sih saya merinding karena saya bisa sedekat itu dengan cawan yang dipakai oleh Yesus, padahal cuman cawannya doang ya :)



Cawan yang terlihat memang lebih besar dengan ukiran emas di bawahnya, rasanya gak mungkin ya cawan Yesus semewah itu karena image Yesus yang hadir kan selalu dengan kesederhanaan. Ternyata cawan tersebut memang telah ditambah bentuknya diberi tambahan semacam dudukan cawan sehingga terlihat lebih besar dan kokoh.

Gereja lain yang saya pilih untuk didatangi adalah Parroquia de San Nicolás Obispo atau gereja San Nicolas, sebenarnya saya malas masuk gereja yang harus bayar dengan tiket masuk, it just against my principle tapi ya sudah anggap saja bantu maintainance.
Saya memilih gereja ini adalah karena pertama sesuai namanya gereja ini ditujukan untuk San Nicolas atau santo yang mengispirasi figur Sinterklas karena San Nicolas adalah santo yang gemar mendonasikan harta miliknya.
Dan alasan kedua adalah karena gereja ini disebut-sebut Sistine Chapel nya Valencia, untuk kamu yang sudah pernah ke Vatican dan masuk ke Sistine Chapel pasti paham maksudnya.





Stasiun Utara Valencia

Valencia adalah kota terbesar nomor 3 dan salah satu yang terpenting di Spanyol. Dihuni oleh sekitar 814.000 orang, Valencia menawarkan pesona obyek wisata yang artistik dan kaya akan sejarah dan budaya. Pesona kota Valencia bisa disusuri mulai dari Estació del Nord atau stasiun bagian utara yang telah berusia 100 tahun. Walaupun telah cukup tua, kecantikkan stasiun yang didesain oleh arsitek asli Valencia, Demetrio Ribes, ini tidak lekang oleh waktu, langit-langit dan dinding di bagian lobi stasiun dihiasi keramik dan mozaik yang berbentuk seperti lukisan panorama dan kehidupan rakyat Valencia.



Arena Adu Banteng

Tepat di sebelah stasiun utara Valencia, spot menarik selanjutnya adalah bangunan bergaya neoclassic yang dibangun sejak tahun 1850 bernama Plaza De Toros. Bangunan ini adalah arena adu banteng yang merupakan kebudayaan khas Spanyol.

Alun – Alun Kota Valencia

Valencia memiliki banyak alun-alun kota, tempat dimana orang lokal berbaur dengan turis menikmati suasana outdoor khas Spanyol yang meriah tidak mengenal waktu. Alun-alun yang terdekat denga stasiun utara dan salah satu yang terkenal adalah Plaza del Ayuntamiento, lengkap dengan air mancur dan taman kota, dikelilingi beberapa bangunan megah dari abad ke-19 dan awal abad ke-20 yang bergaya neo-baroque. Yang paling mudah dikenali adalah gedung balai kota, Ayuntamiento.



Ciudad de Las Aetes y Las Ciencias

Valencia tidak melulu bangunan klasik berusia tua, ia pun memiliki kompleks raksasa yang luas dan sangat modern bernama 'Kota Seni dan Ilmu Pengetahuan" atau yang dalam bahasa lokalnya disebut dengan "Ciudad de las Artes y las Ciencias".
Bangunan di dalam kompleks luas tersebut terdiri atas bioskop IMAX, museum sains, Oceanografic ( aquarius terbesar di Eropa ), dan Opera House. Masing-masing bangunan dibuat sangat futuristik dan spektakuler oleh arsitek lokal Valencia dengan reputasi International.
Untuk opera housenya sendiri, karena tepat tahun lalu kita juga melihat langsung opera house Sydney yang kalau kata teman-teman mirip keong mas hehehe, opera house di Valencia ini memang wow, desainnya yang detail banget, hanya kalah setting aja sama opera house Sydney yang langsung menghadap laut, tapi untuk urusan printilan desain yang di Valencia lebih menarik. #MainMending :p


 



Free Walking Tour

Salah satu cara asyik berkeliling kota Valencia adalah dengan bergabung dengan free walking tour Valencia setiap pagi, tur seperti ini dipandu oleh anak muda yang telah fasih betul mengenai kota mereka. Tidak ada biaya untuk bergabung dengan tur ini, cukup berikan tips di akhir program jika puas dengan tur tersebut.
Sialnya kita dapat pemandu yang aslinya orang Italia ( wondering deh kenapa banyak orang Italia ya di Spanyol? ) , dengan logat Italia yang kental banget malah bikin pusing dengar dia cerita padahal menarik sih bahan ceritaannya.
Dan yang anehnya kalau free walking tour di Valencia itu walaupun judulnya kasih tips sukarela, tapi kalau di Valencia dilihat betul berapa yang kamu kasih, biasanya kalau di kota lain kan pemandunya ngasih tas kosong terus kita isi, boro-boro dia lihat uangnya dan ngitung jumlahnya, nah kalau di Valencia malah kita dapat kwitansi, awkward jadinya.


Nonton Tarian Flamenco

Walaupun Flamenco berasal dari lucia, tapi sebisa mungkin dimanapun di Spanyol kita usahain nonton pertunjukannya live. Nah di Valencia selain di teater, ada satu cafe yang kalau malam menggelar pertunjukkan flamenco, gak setiap hari sih dan kita beruntung banget pas kesana pas banget juga dengan hari mereka tampil.
Yang mau ke Valencia dan nonton flamenco, bisa ke cafe del duende, tiketnya per orang 10 euro berupa voucher untuk beli minuman.
Karena kita datang pas pintu cafe dibuka, kita dapat front row barengan beberapa turis dari Scandic. Pertunjukannya berlangsung selama 1 jam dan gak berasa banget tahu-tahu sudah sejam saja.