Kalau lagi musim dingin seperti sekarang hmmm enaknya lihat-lihat album foto dari musim semi dan musim panas deh, dan ada satu cerita mengenai ladang rapeseed yang belum sempat aku ceritain di blog, so ya cerita balik ke musim semi yang lalu dulu yah :)




* * *

Musim bunga tulip dan sakura telah berlalu, saatnya warna kuning keemasan dari ladang bunga rapeseed yang unjuk gigi. Hektaran ladang rapeseed di pedesaan Prancis Utara bagaikan permadani yang tidak berujung ketika musim semi tiba seperti sekarang.

Baca disini juga : 
Rozenfeest - Festival Bunga Mawar dan Kostum Tahun 1800an
Ladang Bunga Lavender di Prancis Selatan

Hamparan bunga rapeseed yang tertata apik bukan saja indah untuk dipandang, bunga rapeseed ini juga sangat berguna sebagai bahan utama pembuatan minyak canola yang merupakan minyak goreng sehat karena kaya akan sumber alfa-linolenat, asam lemak omega-3 yang sangat baik bagi kesehatan jantung.
Minyak canola juga kaya akan vitamin E dan K yang menyumbang kadar protein untuk perawatan kulit serta memberikan manfaat melembapkan, sehingga banyak produsen produk perawatan kulit dan rambut yang menggunakan minyak canola ini sebagai bahan dasar produk mereka.









Minyak hasil olahan dari biji brassica napus - nama biologi dari rapeseed ini - juga dapat digunakan sebagai bahan dasar BBM beroktan tinggi seperti Bio Diesel, Bio Fuel dan lain sebagainya. Sisa proses pembuatannya pun dapat dijadikan bahan pangan untuk para hewan ternak.

Bukan saja cantik dipandang, hektaran ladang bunga rapeseed di Prancis ini memiliki nilai tinggi dan banyak manfaatnya bagi manusia, jangan heran jika banyak kendaraan yang lalu lalang di jalan yang berhenti memarkir kendaraannya untuk mendokumentasikan keindahan ladang bunga rapeseed yang rutin hadir setiap bulan semi setiap tahunnya.


Tahun lalu saya sempat menuliskan tahap - tahap pembuatan visa Azerbaijan bagi pemegang paspor Indonesia, tapi sejak Januari 2017 telah ada perubahan prosesnya nih guys, menurut saya sih lebih mudah karena bisa langsung dibuat melalui website https://evisa.gov.az/en/  tanpa harus melalui travel agency lagi. Proses pembuatannya akan saya share di bawah ini, saya sendiri sejak apply hanya menunggu 1 hari saja, lalu kemudian e-visa nya disetujui dan dikirim melalui email. 

Proses e-visa Azerbaijan yang sekarang mengingatkan saya akan proses pembuatan visa Turki, mirip banget tampilannya. Bisa dibaca disini ya kalau mau tahu proses pembuatan e-visa Turki

Sebelum memulai tahapannya, ada baiknya menyimpan copy paspor kamu dalam bentuk scan dan juga detil akomodasi karena nanti akan pertanyaan tersebut.
Untuk penginapan saya sih pakai situs booking.com aja, situs ini salah satu andalan saya karena kita bisa milih properti yang bisa kita bayar belakangan, juga bisa kita cancel kalau seandainya visa gak disetujui. Serius deh ini bukan iklan berbayar :-)
Belum pernah pakai booking.com ? Cusss, register ya! 


1. Masuk ke official website ini  :  https://evisa.gov.az/en/




2. Akan muncul formulir aplikasi yang wajib diisi seperti di bawah ini.

3. Selanjutnya adalah pertanyaan tujuan kunjungan ke Azerbaijan untuk apa, karena saya turis, saya pilih tourism, berikut tanggal kedatangan. 
Tanggal ini dicocokkan dengan tiket kedatangan ya, jangan sampai salah tanggal.

 


 4. Selanjutnya adalah mengisi formulir yang berisi pertanyaan seputar biodata kamu. Pertanyaannya standard saja, kalau ada yang tidak dimengerti, di sebelah pertanyaan ada kolom penjelasannya. 

Seperti yang saya tuliskan diatas, sebelum memulai mengajukan e-visa Azerbaijan, pastikan memiliki copy paspor yang telah di scanned, dan juga akomodasi menginap di Azerbaijan, akomodasinya bisa dipilih salah satu saja dulu kalau seandainya kamu bakal pindah-pindah kota. Ini untuk memudahkan kamu mengisi formulir di bawah ini, lihat kan kalau ada pertanyaan bakal nginap dimana di Azerbaijan dan juga mereka minta scanned dari paspor kamu.





5. Dari tanggal kedatangan akan dihitung 90 hari, lalu akan muncul biaya yang harus dibayarkan. 

Sistem pembayarannya hanya dengan kartu kredit Visa dan MasterCard, terserah mau pakai kartu kredit siapa sih, gak ditanyain juga, yang penting dengan kartu kredit, selain kartu kredit pokoknya gak bisa ya !


 
 



6. Setelah pembayaran dan ada notifikasi kalau pembayaran kamu telah sukses selanjutnya tinggal menunggu saja. Kalau di websitenya disebutkan prosesnya memakan waktu 3 hari, untuk kasus saja kurang dari 24 jam telah diterima di email.
Lampiran electronic visanya lalu dicetak dan dibawa saat berangkat ke Azerbaijan ya, karena biasanya saat proses check in penerbangan akan ditanyakan e-visa tersebut oleh staff dari maskapai penerbangan. Dan begitu juga saat tiba di imigrasi. 

Simpan baik-baik ya E-Visa Azerbaijan ini karena saat kepulangan nanti, lagi-lagi staf imigrasi di bandara akan minta kita untuk memperlihatkan visa tersebut.




7. Last but not least, satu hal yang paling penting dan sering terlewatkan adalah meminta registrasi jika kamu berada di Azerbaijan lebih dari 10 hari. Hal ini memang tidak diinformasikan dimanapun, tidak ada tertulis di website pengajuan visa, tidak ada ucapan dari staf imigrasi saat kedatangan, pokoknya gak ada. Boleh dicek di travel blog tetangga, banyak banget yang terkecoh dengan informasi yang missing ini dan berakhir mereka harus membayar denda  sekitar Rp. 3.000.000,- per orang atau deportasi dan ga bakal diijinkan lagi masuk ke Azerbaijan selama 3 tahun.

Nah ini yang bikin kita hampir apes, saya bilang hampir karena thanks God kita gak sampai kena denda ini, karena ada hotel yang membantu membuatkan surat registrasi di hari terakhir kita di Azerbaijan.

Gimana sih bikin surat registrasinya ? Sebenarnya ini kewajiban hotel/hostel/penginapan yang kita inapi saat di Azerbaijan, tapi sepertinya gak semua staf penginapan ini aware akan kewajibannya mendaftarkan tamu mereka, jadinya kita sebagai turis harus pro aktif meminta atau bisa juga mendaftarkan sendiri melalui website ini http://en.e.migration.gov.az/  secara online. 
Saat check in di penginapan memang sih mereka minta copy paspor kita, tapi gak berarti mereka membuat register atas nama kita. 

 Any questions, feel free to write it in the comment box below !


Our travel journey in Social Media
FACEBOOK INSTAGRAM TWITTER YOUTUBE



Maroko tidak melulu mengenai Gurun Sahara ataupun sekolah madrasah, pada abad 1 bangsa Romawi Kuno pernah menguasai area yang kita kenal sekarang sebagai Maroko dan memperluas kerajaannya sampai Afrika Utara. Adanya situs Volubilis menguatkan fakta mengenai hal tersebut dan membuat Maroko semakin unik untuk dikunjungi.

Terletak sekitar 23 kilometer dari kota Meknes, situs arkeologis Volubilis dapat ditempuh kurang dari 30 menit dengan berkendara, sepanjang perjalanan kita dapat melihat hektaran ladang pertanian zaitun dan gandum yang subur, salah satu alasan mengapa bangsa Romawi menduduki area ini dan menjadikan Volubilis sebagai pusat pertanian dan mengekspor hasil tani nya ke Roma. 




Volubilis mengalami jaman keemasan di abad 2 hingga 3 masehi dan kemudian kota ini jatuh ke tangan suku lokal pada tahun 285, namun tidak pernah direbut kembali oleh Romawi karena jaraknya yang jauh.






Dengan harga tiket sebesar 10 Dirham atau sekitar Rp. 13.000,- per orangnya, kita dapat melihat reruntuhan Volubilis yang masih utuh dan siaplah terkesima melihat kemampuan manusia pada jaman itu membuat mozaik yang cantik dan pilar-pilar kokoh di kuil nya.



Ketika mengunjungi negara Maroko, ada baiknya untuk tidak tinggal hanya di satu kota saja namun mengunjungi kota-kota lain disana, hal ini semata karena tiap kota di Maroko menawarkan pesona yang selalu berbeda antar kotanya.

Transportasi antar kota di Maroko sangat memadai untuk turis karena tersedianya bus umum yang memiliki rute melayani penumpang sampai ke pelosok. Para calon penumpang sedianya membeli tiket sehari sebelum keberangkatan di loket terminal bus terutama jika kota tersebut cukup terkenal di kalangan para wisatawan seperti misalnya kota Marrakesh atau Fes.


Terminal bus di Maroko pun tertata apik, hanya bus yang sedang bertugas yang boleh masuk ke area terminal bus tersebut dan tiket penumpang akan di cek sebelum naik ke atas bus, barang bawaan harus rapi disimpan di dalam bagasi bus dan penumpang diberikan nomor bagasi layaknya naik ke atas pesawat.

Dibandingkan dengan transportasi lainnya, bus di Maroko juga aman karena beberapa kali polisi akan memberhentikan bus dan mengecek apakah bus layak beroperasi untuk melanjutkan perjalanan.



Untuk jasa yang demikian bagus, tiket bus antar kota di Maroko ini terbilang ramah di kantong, misalnya dari kota Fes ke Marrakesh dengan durasi perjalanan selama 10 jam, harga tiket dibandrol seharga 175 Dirham atau sekitar Rp.233.000,-, waktu keberangkatannya pun beragam, bisa bus malam atau pagi.

Terus bagaimana caranya  beli tiket bus di Maroko ? Di website ini : http://www.ctm.ma/ bisa dibeli tikenya secara online , atau bisa juga kok langsung ke bus terminalnya jika traveling bukan di high season, biasanya tiket bus secara tersedia kok. 




Siapa sih yang gak suka dengan hotel bertema, aku sih suka banget, salah satu alasan sebelum traveling biasanya aku paling banyak menghabiskan waktu untuk nyari-nyari akomodasi yang seru, kalau bisa bertema menarik seperti hotel yang dulunya bekas penjara, atau bekas gedung biara.

Nah, untuk hotel dengan tema seperti di kereta api, ada nih hostelnya, namanya Train Hostel yang terletak di pusat jantung ibukota Belgia, Train Hostel ini menawarkan sensasi menginap di dalam gerbong kereta lho, ada 36 kamar dan kompartemen yang didekorasi sesuai keperluan para tamu, untuk Anda yang lebih suka menginap ala backpacker maka tersedia kamar khusus dormitory dan untuk Anda yang menginap bersama anak-anak di bawah umur tersedia kamar juga yang mengkomodasi sampai 6 orang, seru deh jenis tempat tidurnya, yang pasti anak-anak akan terlelap dalam imajinasinya naik kereta menuju pulau kapuk impian.

Berada di setiap tipe kamar di dalam Train Hostel ini seperti membawa kita masuk ke dalam cerita dalam buku Murder on the Orient Express nya Agatha Christie atau film bertema kereta nya Alfred Hitchcock yang berjudul Strangers on a Train nya. 

Bukan hanya setting nya yang sama persis seperti di dalam kereta api beneran, dekorasi nya pun sangat mendukung, mulai dari jam tua, topi para masinis, pintu kereta, sampai ke alat pemadam kebakarannya, dan bukan itu saja tidak tanggung-tanggung ada sebagian badan lokomotif yang diletakkan di atas pintu masuk utama hostel, konon ini benar-benar merupakan bagian dari kereta yang memang pernah digunakan sebagai kereta lintas Eropa. 





Masih belum puas? Tepat di sebelah Train Hostel ini Anda sekeluarga bisa puas mendapatkan ilmu mengenai seluk beluk sejarah kereta di dalam museum Train World yang juga baru-baru ini diresmikan di Belgia. Pastinya bukan saja menghibur namun juga sangat mengedukasi. 

Gimana dengan kamu? Suka nyari-nyari penginapan bertema menarik juga ga sih ?  :-)
Kesal sama diri sendiri deh karena sudah lama membiarkan blog ini sedikit terbengkalai padahal ada beberapa postingan di draft yang harusnya diselesaikan untuk diposting. Terakhir postingan saya adalah mengenai trip kami ke Ukraina di musim panas, lalu setelah itu selesai, bahkan cerita jalan-jalan ke Maroko yang kedua kalinya di awal musim dingin belum selesai semua ditulis :-) 

Untuk sementara saya recap dulu saja ya kalau gitu, ngapain saja dan kemana saja setelah musim panas di Budapest dan Ukraina, mumpung juga sudah mau akhir tahun jadi anggap aja recap dari pertengahan tahun sampai bulan November ini. It s pretty nice to have a travel recap, so you know where you have been and what you have done :)

Juni 2017            : Revisit Budapest

Musim panas kami kembali lagi ke Budapest, pertama kali datang di ibukota Hungaria ini saat kami merayakan ulang tahun pernikahan, saat itu musim dingin parah banget di Budapest, dan saya berharap suatu saat kami bisa kembali lagi ke Budapest saat udara lebih menghangat. Siapa sangka ucapan jadi kenyataan ketika pesawat kami ke Kiev Ukraina transit di Budapest dan saya pikir kenapa juga gak memperpanjang waktu transit menjadi beberapa hari. 
Musim panas di Budapest di bulan Juni dimana permulaan musim panas, panasnya sungguh terik, udara di Budapest ini ternyata memang ekstrem, dingin ya dingin banget demikian juga panas ya jadi panas banget. 


Karena ini kunjungan kedua, jadi gak begitu ambisius, walaupun ada beberapa sightseeing spot yang memang telah saya rencanakan untuk datangi lagi, salah satunya adalah menikmati sunset dari ketinggian kota Pest.

Juni 2017            : Ukraina

Yang ngikutin trip kita melalui Instagram dan Twitter mungkin aware dengan hashtag #J2LToExSoviet , salah satu impian kita untuk bisa melihat semua negara yang dulunya ada Uni Soviet. Pecahan negara Soviet ini bisa dibilang massive dan memerlukan beberapa kali trip untuk menjelajah semuanya, semuanya lho ya dan bukan ngitung ibukota :) 
Tahun ini kita bisa mendatangi salah satu negara pecahan Ex Soviet lainnya yaitu Ukraina. Ada beberapa kota yang kita datangi di Ukraina selain ibukota, Kiev, yaitu Lviv, Odessa, Rivne dan Klevan. 

Beberapa postingan mengenai Ukraina yang telah sempat saya posting adalah mengenai :

Juli 2017             : Dunkirk, Prancis

Karena letak geografis rumah kita yang dekat banget ke Prancis, jadi seringnya road trip tanpa rencana ke Prancis, hanya beberapa ratus kilometer dan langsung berasa liburan, suami saya memang lebih prefer ke Prancis kalau ada waktu luang dibandingkan ke Belanda, kalau Belanda sih saya yang mau ya karena restoran Indonesia gampang dicari ha ha ha

Perjalanan ke Dunkirk karena semalam atau dua malam sebelumnya kami sempat nonton film Hollywood berjudul Dunkirk, bukan pertama kali memang saya melewati Dunkirk namun untuk berhenti dan benar-benar menikmati kotanya belum pernah. Setelah nonton film Dunkirk barulah semangat mau cari tahu lebih banyak mengenai kota ini. 
Di Dunkirk kita mampir ke museum Dunkirk 1940, semua sejarah mengenai the battle of Dunkirk tersusun rapi di museum ini, konon Christopher Nolan pun mendapatkan banyak sumber dan data sebelum membuat filmnya ya dari museum ini.

Agustus 2017      : Paris, Prancis

Tahu gak sih saya dan suami tuh baru tahun ini ke Paris secara bersama-sama, sebelum2nya saya ke Paris bersama keluarga, lalu bersama teman-teman perempuan, demikian juga suami saya, ia pergi ke Paris ya kalau ga sama keluarga ya sama kawan-kawan. Setelah menikah hampir 10 tahun ini malah baru ke Paris barengan, padahal kan Paris kota cinta bukan ? ha ha ha , suami saya paling jawabnya " Gapapalah belum pernah ke Paris bareng, kan ke Samarkand atau ke Fiji juga barengan" , ah sok banget :p


Belum pernah ke Paris bareng malah di tahun 2017 ini kita udah ke Paris 2 kali, pertama di musim semi yang lalu dan kembali lagi ke Paris di musim panas ini di bulan Agustus, kunjungan kedua di tahun ini karena nganterin ponakkan saya yang lagi liburan di Eropa dari Los Angeles, jadinya kita temenin mereka jalan-jalan ke Paris 


Oktober 2017     : Alsace, Prancis

Another visit to France, dan lagi-lagi ke regio Alsace, yang bikin beda adalah musimnya. Musim gugur di Alsace bikin saya melongok saking kecenya, probably the best season to visit Alsace, dimana ladang-ladang buah anggur telah berubah warna menjadi kekuningan, absolutely fantastic! 


Oktober 2017     : Krakow, Polandia

Annual girls trip is back ! Yup, tiap tahun saya usahain jalan-jalan sama teman-teman cewek kemanalah gitu, biasanya sih masih area Eropa yang Schengen jadi ga ribet mesti ngurus visa karena biasanya hanya long weekend aja. Dan kali ini kita jalan-jalan ke Krakow di Polandia, walaupun udaranya udah lumayan dingin di Krakow.


November 2017 : Turki Trips ( Istanbul, Bursa, Bodrum )

Manusia berencana, kedutaan juga yang menentukan. Awal mula tidak ada perjalanan ke Turki di rencana travel kita, hanya ke Istanbul saja karena harus transit menuju Beirut, Lebanon yang adalah perjalanan utamanya. Apa daya sampai hari ketiga menjelang berangkat, visa Lebanon saya gak kelar-kelar juga di kedutaan, dan akhirnya kita beli tiket baru ke Azerbaijan. 

Rencana awal yang tadinya hanya ingin mengunjungi kembali Istanbul, malah jadi nambah ke kota-kota lainnya di Turki seperti di Bursa dan Bodrum, kebetulan kedua kota di Turki ini belum pernah kita kunjungi, jadi tetap excited untuk kembali ke Turki lagi dan lagi :)                                 

November 2017 : Azerbaijan

Lebanon dihapus dari travel plan tahun ini dan berganti dengan Azerbaijan. Bukan rencana lama memang ingin mengunjungi Azerbaijan, sejak trip kita ke Iran tahun lalu sebenarnya sudah ingin memasukkan Azerbaijan juga, hanya sayang sekali jika terlalu terburu-buru di Iran dan seandainya ke Azerbaijan pun paling banter nyampe di Baku, it s not so us banget traveling semacam orang greedy seperti itu, so we have to deal with the fact mending puas-puasin di Iran dan di kesempatan lain puas-puasin lagi di Azerbaijan. 

Gak dapat visa Lebanon tepat waktu membawa kita berdua ke Azerbaijan dan we had so much fun and new experiences , dan tentunya another #J2LToExSoviet lagi dong karena kan Azerbaijan juga salah satu negara pecahan Uni Soviet. 

Trip kita ke Azerbaijan santai banget, benar-benar absorbing the ambiance of many cities, mulai dari Baku beberapa hari, lalu naik gunung ke kampung tertinggi Azerbaijan di gunung Caucasus, ke kota Quba, lalu ke Shaki yang adalah salah satu kota tertua di Azerbaijan dan ke kota Kis. Pokoknya puas banget!

 * * *

Well, begitulah kira-kira perjalanan kita sampai di bulan November 2017 ini, di setiap perjalanan ada cerita dan semoga saya mampu menuliskan banyak cerita di blog ini. Untuk sementara postingan ke depan adalah postingan yang sempat saya draft hanya baru sempat saya selesaikan dan posting, akan saya posting setiap 2 hari sekali mulai besok :) 

Masih ada sebulan lagi di tahun 2017 ini, semoga semuanya sehat dan rejeki lancar sehingga beberapa trip yang masih tersisa di bulan Desember boleh berjalan dengan baik ! 

Wishing all of you a fantastic Monday and happy travel! 


Our travel journey in Social Media
FACEBOOK INSTAGRAM TWITTER YOUTUBE

Biasanya setiap membuat itinerary sebelum bepergian saya selalu menyisihkan beberapa hari lowong di satu kota yang menurut feeling saya kota tersebut bakalan cozy untuk ditinggali lama-lama, hal ini selain untuk hibernasi dan beristirahat juga saat yang tepat untuk menyerap suasana dan kehidupan lokal di kota tersebut. 
Berdasarkan pemikiran itu, saya pun memilih kota Lviv sebagai kota beristirahat kami selama perjalanan ke Ukraina musim panas lalu, setelah beberapa hari sebelumnya lumayan sibuk dengan mengeksplor sebanyak mungkin kota Kiev, lalu lanjut ke Rivne untuk mengunjungi Tunnel of Love, tiba di Lviv seperti langsung berasa di rumah untuk sejenak beristirahat. 

Awal pandang saya akan Lviv begitu menyenangkan, tiba dengan bus umum dari terminal yang langsung membawa penumpang menuju pusat kota tua Lviv, sebenarnya jasa Uber di Ukraina sangat bisa diandalkan, kemana-mana kami selalu naik Uber juga sih tapi sesekali bolehlah naik bus umum, kebetulah juga bus umum dengan nomor yang kami perlukan pas berhenti di depan muka. Bus lumayan penuh ketika kami naiki, beberapa orang tua duduk di kursi yang telah disediakan untuk manula seperti mereka, melihat kita naik malah mereka berdiri dan kita disuruh duduk, tentunya kami menolak. Beberapa militer yang akan berangkat bertugas juga berdiri di samping kami, seandainya saya bisa baca pikiran apa yang mereka pikirkan pastinya akan sangat menyedihkan ya, saya lihat dari aura nya kalau ia seperti demotivasi, tapi mungkin saya bisa salah. 
Penumpang yang tidak bisa naik dari pintu depan bus harus naik dari pintu tengah atau belakang dan si penumpang tersebut memberikan uang kertas untuk membayar ongkosnya, lembaran uang itu berurutan secara estafet dari satu penumpang ke penumpang lainnya sampai uang tersebut sampai di tangan supir di depan, saya senang sekali melihat ritual ini setiap penumpang lain naik dari pintu belakang, syukur-syukur kalau uangnya pas, kalau uangnya perlu kembalian, bisa dipastikan uang kembalian pun di estafet dari tangan supir ke pemilik kembalian tersebut di bus bagian belakang. 


Jarak dari terminal bus ke pusat kota tua Lviv sekitar 30 menit, pastinya tidak terasa karena waktu terebut saya gunakan untuk people watching, selain estafet uang ongkos tadi, saya juga memperhatikan militer perempuan yang cantik-cantik, rambut rapi dikepang, make up lengkap dan kuku yang baru di manicure.  30 menit pun akhirnya menyampaikan kami di pemberhentian bus tepat di depan Katedral yang megah,  disanalah kami turun dan menuju apartemen yang telah saya reservasi sebelumnya. 





Saat itu akhir pekan, Lviv ramai bukan main, semua orang asyik bersantai di udara yang cukup hangat menyenangkan, dari berbagai pelosok terdengar musik dengan volume tinggi, ternyata seminggu itu Lviv menjadi kota tuan rumah pergelaran musik Jazz, ah no wonder.
Mencari alamat apartemen ini ternyata lumayan menantang, saya baru sadar kalau alamat yang diberikan sangat sederhana tanpa nomor, patokannya depan balai kota Lviv begitu kata Olga makelar apartemen di Lviv. Saya memutuskan untuk menghubungi Olga, untung saya membeli nomor lokal Ukraina saat tiba di Kiev, nomor lokal dan data internet di Ukraina murah kebangetan, saya sampai gak percaya saat penjual nomor telpon itu menyebutkan angkanya. 
Olga menjawab telpon masuk dari saya dan ia mengirimkan suaminya untuk menjemput kami berdua, ternyata apartemennya tepat berada di depan kami berdiri sedari tadi. 



Apartemennya luas, jendela besar menghadap langsung ke bangunan balai kota Lviv, walaupun harus naik tangga 4 lantai tak apalah, karena yang penting lokasi apartemen ini sangat strategis. Saya buka jendela besar-besar, berbagai suara terdengar sangat kencang, lalu mendadak sepi ketika jam 1 siang tepat suara tak beraturan itu berganti dengan suara terompet yang dibunyikan oleh militer yang bertugas dari atas balkoni balai kota. Kurang tahu pasti apa tujuannya, kata Olga setiap jam sekali sampai jam 6 sore nanti suara terompet akan terus berkumandang, agak merinding sih dengarnya karena tanpa kita sadari saat itu (bahkan sampai saat ini) Ukraina sedang dalam status perang. Mungkin saja bunyi terompet tersebut untuk mengingat mereka yang gugur di medan perang. 

Setelah selonjoran dan browsing tempat makan enak di Yelp dan Trip Advisor, suami saya punya ide gimana kalau kita makan malam di Uzbekistan restaurant aja,  kebetulan review mengenai restoran ini bagus-bagus sekali, setelah beberapa hari rutin menyantap kuliner khas Ukraina yang sangat enak-enak itu, rasanya tidak ada salahnya menikmati kuliner lainnya, toh Ukraina dan Uzbekistan pernah bersaudaraan juga saat masih dalam naungan bendera Uni Soviet kan dan kita juga semacam rindu dengan kuliner Uzbekistan.
Jarak dari apartemen ke restoran Uzbekistan ini sekitar 1,5 kilometer berjalan kaki, sambil jalan kami melihat sisi Lviv yang lain yang sebelumnya  kami lihat ketika tiba, di sepanjang sisi jalan dipenuhi restoran, kafe, brasserie, pub, ah you named it deh, apapun ada dengan berbagai tema yang disajikan untuk mencuri hati pelanggannya. Saya sama sekali tidak menyangka Lviv begitu sehidup ini, rasanya seperti berjalan di Paris saja. 




Kami keluar dari restoran Uzbekistan dengan hati girang, makanannya super duper enak, pemiliknya yang asli Uzbekistan juga sangat ramah, ia asli berasal dari Samarkand dan datang ke Lviv karena menikahi perempuan dari Ukraina, lalu mereka akhirnya memutuskan untuk membuka bisnis restoran Uzbekistan yang saat kami ada disana semua meja ramai dipenuhi tamu. Good business I guess ! 

Saya sengaja menawarkan suami untuk menikmati desserts dan kopi di tempat lain, saking banyaknya restoran di Lviv sepertinya sayang ya kalau tidak dinikmati tempat-tempat seru lainnya, satu per satu restoran saya perhatikan dan langkah saya kemudian berhenti di satu area lokasi yang sungguh romantis, musik yang mengalun mengajak ingin berdasa dan lilin-lilin dari chadelier kuno ughhh I cant move on, we have to come inside the courtyard. Sesuai namanya Italian Courtyard, restoran ini berdiri di atas bangunan bergaya Italian Renaissance dan merupakan mansion milik orang Italia pada masanya, walaupun direkomendasikan oleh Condé Nast Traveller sebagai tempat makan asyik di Lviv, rasa tiramisu yang saya pesan ternyata biasa saja, ambiance nya sih ya yang memang juara dan itu harga yang dibeli.


Hari semakin malam dan Lviv masih ramai terjaga, bisa jadi ramai seperti ini karena pegelaran musik atau memang seperti ini setiap saat, suami saya mengasumsi bahwa Ukraina saat musim dingin bisa sangat mencekam temperaturnya, maka saat musim panas seperti sekarang mereka betul-betul memanfaatkan bisa berada di luar ruangan dan bersenang-senang. Saya pun akur dengan teorinya. 






Hari pertama di Lviv membuat kami tersenyum karena kota ini memberikan kejutan yang menyenangkan, kami tidur lebih awal malam itu karena besok pagi kami akan melakukan excursion ke Pegunungan Carpathians yang adalah pegunungan yang melewati negara Czech, Polandia, Slovakia, Hungaria, Ukraina, Romania dan Serbia.

Chefchaouen, Cantiknya Si Kota Biru Maroko

Maroko telah lama menjadi destinasi favorit orang Indonesia, bukan saja karena kultur dan budaya nya yang menarik namun juga karena pemegang paspor Indonesia dipermudah dengan adanya kebijaksanaan bebas visa untuk turis Indonesia.

Selain Marrakesh, Gurun Sahara dan kota Fes, ada satu lagi kota di Maroko yang banyak diimpikan banyak orang untuk didatangi. Kota itu bernama Chefchaouen yang sepenjuru kota tua nya dicat warna biru.
Jauh sebelum foto-foto mengenai Chefchaouen ramai terlihat wara wari di Instagram, suami saya telah menceritakan mengenai Chefchaouen dan keindahannya, ia bercerita seakan-akan sudah pernah kesana, begitu meyakinkan dan ini bukan untuk yang pertama kalinya ia seperti ini, beberapa rekan pejalan bahkan cukup berhasil diyakinkan sampai mereka pergi duluan sebelum kami. Tidak mengapa, it s all about the perfect time karena awal musim semi yang indah di tahun ini pun, akhirnya kami berdua tiba disini.




Tujuan utama memang kota Fes, dari sinilah kami mengatur langkah pergi kemana selama berada di Maroko untuk yang kedua kalinya ini. Pesona Maroko masih sama seperti yang pernah kami rasakan, ada yang mencoba mengelabui di tengah labirin, namun selebihnya banyak yang tulus berinteraksi. Tiba di Riad yang kami inapi di dalam Medina di Fes, hal pertama yang kami tanyakan adalah apakah mereka memiliki paket excursion ke Chefchaouen, dan pastinya ada tapi ada harga yang harus dibayar, dan harga itu untuk standard Maroko rasanya kelewat mahal. Untungnya saya dari rumah telah melakukan cek dan ricek bagaimana menempuh Chefchaouen dari Fes, dan ternyata mudah dan murah sekali.

Vlog What To See in Fes, Morocco


Di saat kami duduk-duduk santai di lobi Riad, ada seorang pemuda dari Thailand, darinya ia berpendapat kalau Chefchaouen seperti kota tua kecil yang terlalu dibuat-buat demi menarik perhatian turis, kebetulan hari sebelumnya ia baru saja menyelesaikan trip ke Chefchaouen dalam rangkaian perjalanan selama sebulan keliling Maroko. Saya sempat lemas ketika saya mendenar pendapatnya ini, tapi sudahlah kami datang jauh-jauh bukan untuk mendengar opini orang melainkan menyaksikan dengan mata sendiri.

Setelah 3 jam berkendara dengan bus umum yang sangat nyaman dari Fes, terlihatlah susunan rumah berwarna biru dan putih dari kejauhan, sepintas mengingatkan saya akan Santorini, konturnya yang berundak-undak sedikit mirip, hanya saja tidak ada panorama laut di sekeliling Chefchaouen.












Nuansa warna biru yang menggoda ini kontras dengan banyaknya karpet khas Maroko berwarna merah atau kuning yang diletakkan di dinding-dinding depan toko, seakan-akan memanggil untuk dibeli.
Berjalan kaki menyusuri gang-gang sempit di kota tua Chefchaouen memberikan sensasi tersendiri walaupun kerap kali harus tersesat, namun suasana santai yang ditunjukkan oleh kota ini juga membuat Chefchaouen nyaman untuk dikunjungi.

Warna biru di Chefchaouen merupakan tradisi abad ke-15 yang selalu mengecat rumah dengan warna biru langit. Budaya itu dilakukan agar penduduk kota selalu mengingat Tuhan, selain itu warna biru juga dipercaya membuat binatang nyamuk enggan berada di sekitarnya.



Lalu apakah pada akhirnya saya sependapat dengan si pria Thailand itu? Jika harus jujur, saya sependapat! Kota Chefchaouen memang menarik, itu tidak bisa dipungkiri, hanya saja saya kehilangan sedikit sisi otentik disana, after all it s not about the destination but about its journey!


Jangan lupa ya untuk subscribe di youtube channel kita untuk video-video perjalanan lainnya :  

Bagaimana cara menuju Chefchaouen dari kota Fes?


Chefchaouen dapat ditempuh dengan bus dari kota Tangier atau kota Fes, transportasi di Maroko sangat memadai sehingga sangat memudahkan untuk mengunjungi Chefchaouen. Perjalanan ke Chefchaouen bisa dilakukan dalam sehari atau jika ingin menginap pun banyak penginapan yang tersedia.

Lihat disini mengenai nyamannya transportasi umum di Maroko :