Rasanya kebutuhan untuk traveling itu semakin lama semakin penting kehadirannya dalam rangka mengisi keseimbangan hidup. Ada waktu untuk bekerja, ada juga dong waktunya untuk relax dan nyantai, otak dan tubuh juga perlu yang namanya untuk istirahat dari rutinitas lho. Hanya saja alasan yang paling sering ditemui adalah jumlah cuti yang terbatas dan hari-hari yang sudah disibukkan dengan pekerjaan, kapan mau ngurus jalan-jalan nya?!

Semua Ada di Genggaman Tangan!

Walahh itu sih alasan lama, prends! Gak punya jatah cuti untuk lama-lama, ya bisa kan manfaatin long weekend atau berliburlah ke destinasi yang dekat dengan tempat tinggal, Indonesia ini gak ada habisnya untuk dijelajahi deh, asal ada niat pasti lah liburan itu akan kejadian juga.
Terus mengenai alasan gak punya waktu, omagah hari gini semua bisa dilakukan dari genggaman tangan lho, kalau bisa main Instagram dan ngetweet mulu, pemesanan penginapan juga bisa dilakukan langsung dari genggaman tangan aja. Gak percaya?!!? Nih saya kenalin dengan aplikasi yang namanya Airy Rooms, udah pernah dengar belum?

Say Hello to Airy Rooms !

Kalau kamu belum pernah dengar Airy Rooms, wah berarti jarang nonton TV ya? Soalnya iklannya kan udah sering banget nongol loh, nih saya ingatkan lagi lagi ikannya itu yang seperti ini nih :



Gimana? Sudah ingat belum?
Jadi ya Airy Rooms ini adalah situs pemesanan penginapan dengan harga bersahabat, dan koleksi properti nya banyak tersebar di 38 kota besar di Indonesia. Ok lah kalau kamu bilang nggak punya waktu untuk nyalain PC atau laptop, karena berkat terknologi terkini, Airy Rooms pun sudah memiliki aplikasi yang bisa diakses melalui telepon pintar dan aplikasi nya bisa diunduh gratis aja kok :-) 
Yuuk berlibur....:-) 

Setelah aplikasi sukses kamu download, maka selanjutnya tinggal masukkan saja kota tujuan yang akan kamu datangi, karena saya kepikiran lagi pengen banget ke Bali dan mau nya tinggal di Ubud, jadi saya tinggal menuliskan 'Ubud' di kolom pencarian dan kemudian munculah banyak sekali properti yang ada di koleksinya AirRooms ini, berikut harga per malam nya.
Yang saya suka harga yang muncul ini adalah harga Nett, jadi nggak usah kuatir dengan hidden rate seperti pajak dan lainnya, karena semua sudah termasuk di harga yang tertulis disitu. 



Dari aplikasi AirRooms, tinggal masukkan kota  yang kamu mau kunjungi di kolom pencarian dan tinggal cari saja sesuai budget yang style penginapan yang kamu mau. Setiap propertinya menampilkan foto properti tersebut, lengkap dengan keterangan ada fasilits apa saja yang ada disana.


Setelah merasa cocok dengan penginapan yang kita pilih, then feel free untuk melakukan pembayaran. Metode pembayarannya sangat dipermudah dengan adanya pilihan bank transfer ( ATM Bersama, Prima, Alto, E-Banking ) dan Kartu Kredit Visa dan Mastercard. 

Jika pembayaran telah sukses dilakukan, nggak pakai lama sampai voucher tiba di tangan kamu, dan nggak perlu ribet nyari printer segala, karena bentuk vouchernya adalah dalam bentuk elektronik yang tersimpan di aplikasi Airy Rooms yang kita punya. Selanjutnya saat check in tinggal tunjukkan saja ke resepsionisnya.  

Easy peasy and no hustle! 
Gimana? Masih mau bilang nggak punya waktu untuk ngurus perintilan liburan ? :-)



Jika ada kota tua di Iran yang meninggalkan kesan paling dalam, mungkin saya bisa bilang kota Yazd adalah primadonanya. Sengaja saya masukkan ke dalam agenda sebagai kota yang akan paling lama kami tinggali, sekalian hibernasi karena cuaca panas di Iran yang gak santai. Selama kami disana cuaca sekitar 40 derajat setiap harinya, panas di Iran lebih menyengat tapi tidak humid seperti di negara tropis kayak Indonesia.
Kami tiba dari Yazd dari Shiraz diantar baba, ayah dari pemilik guest house yang kami  inapi sekaligus yang mengantar kami kemana-mana selama di Shiraz. Baba beserta istri dan anak-anaknya seperti keluarga yang sudah lama kami kenal saja, sampai sekarang pun kami masih bertegur sapa di dunia maya, mereka berharap kami mengunjungi Shiraz kembali suatu hari nanti, demikian juga kami dengan harapan yang sama.
Related posts : 
Baba mengantar kami tiba dengan selamat dari perjalanan panjang Shiraz - Yazd,  tepat di depan gang dan di depan plataran mesjid Jāmeh yang merupakan mesjid terkenal di Iran, berusia 800 tahun dan memiliki minaret salah satu yang tertinggi di Iran. 
Jalan menuju penginapan yang telah kami reservasi sebelumnya ternyata mudah saja, tinggal ikuti papan kecil yang ditempel di dinding, karena ini hotel baru jadinya papan pengumumannya juga masih bersih dan jelas, belum tertutup debu.

 


Setelah beristirahat semalaman setibanya di Yazd, pagi-pagi usai sarapan kami segera bergegas ingin menikmati kota kuno ini untuk menghindari panas yang menyengat, kalau pagi agak tertolong dengan angin yang lumayan adem tapi jangan tanya jika sudah jam 11 siang keatas. 
Orientasi yang tinggi diperlukan ketika menyusuri kota kuno Yazd ini, semua belokkan terlihat hampir sama, dindingnya berwarna seragam seperti warna lumpur mengering, dan sesuai namanya "The City of Wind-Catchers", maka di Yazd banyak sekali terlihat penangkap angin, terdengar aneh ya? Well, itu juga reaksi saya pertama kali ketika membaca mengenai wind catcher ini, istilahnya ya seperti AC jaman kuno lah, berbentuk seperti menara yang dibuat sedemikian rupa dan menara tersebut ada di atas rumah sebagai ventilasi udara. Hebat ya para pemikir di masa lalu itu, belum ada peralatan yang memadai namun sudah bisa memikirkan penemuan-penemuan baru yang termasuk jenius pada masanya.

Wind Catcher in Yazd, Iran - An Ancient Air Conditioner


Karena bulan puasa dan sekolah liburan musim panas selama 4 bulan, maka saya hampir jarang bertemu dengan orang lokal yang lalu lalang di labirin raksasa ini, sesekali ibu berkerudung dengan chador hitam-hitamnya melewati kami, memberikan senyum yang singkat namun kebanyakkan hanya menunduk dan melanjutkan perjalanan. 
Saya perhatikan dress code di Yazd sudah lebih tradisional dibandingkan di Shiraz yang modern, kalau di Shiraz saya biasa melihat para perempuan Iran yang modis lengkap dengan legging warna warni, lipstik mentereng, terbalik sekali dengan Yazd yang serba hitam dan tradisional, kontras dengan warna labirin kecoklatan di sekelilingnya.

Women in Yazd wearing traditional chador

Never ending labyrinth like this in Yazd

Gate all around the old town

Doors Parade

Door knockers

Yazd and its all about
Yazd disebut-sebut sebagai the ‘oldest living city on Earth’ given that it’s been continually inhabited for about 7000 years, berjalan menyusuri kota kuno Yazd memang seperti kapsul waktu yang membawa kita kembali ke masa lampau. Pada abad ke 13 saat dimana Marco Polo berada di Yazd, beliau menyampaikan bahwa Yazd adalah kota yang menawan dan pusat perdagangan, rasanya saya harus menggangguk setuju dengan pendapat Marco Polo tersebut. Yazd dipenuhi koridor rahasia tanpa tahu akan kemana kita melangkah, lalu tiba-tiba tersesat, dan kemudian kembali menemukan arah kembali ke tempat semula berkat terlihatnya ujung minaret mesjid Jāmeh nun jauh disana.
~ ~ ~



Berdasarkan beberapa pertanyaan yang masuk dari teman-teman yang ingin mengunjungi Iran, rata-rata pertanyaan yang paling banyak saya terima adalah menginap dimana selama di Iran. Saya bisa mengerti kesulitan mencari rekomendasi penginapan tersebut karena saya pun juga merasakan susahnya mencari informasi ini apalagi untuk melakukan reservasi.
Situs booking online hanya mungkin ada 3-5 penginapan di Tehran yang ada di booking.com, AirBnb malah tidak ada sama sekali karena masih belum diijinkan beroperasi di Iran, Couchsurfing pun secara legal dilarang, mau menghubungi travel agency lokal sayangnya pembayaran masih manual melalui transfer ke bank mereka di Uni Emirates atau Turki. 

Jika perjalanan ke Iran dilakukan saat low season seperti musim panas atau bulan Puasa, rasanya akomodasi tidak menjadi persoalan karena jarang turis dan pengunjung bisa saja langsung go show.

Untuk membantu mereka yang sedang mengatur perjalanan ke Iran, berikut saya sampaikan rekomendasi penginapan yang telah kami inapi selama di Iran.


Ini kota-kota di Iran yang kita lewati


TEHRAN : Novotel Hotel 

(atau bisa juga memilih Ibis Hotel karena sebelah-sebelahan hotelnya) Kedua hotel ini hotel yang baru buka pasca dicabutnya embargo, jadi satu-satunya International chain hotel di Iran.
Pemesanan kedua hotel ini bisa dilakukan melalui www.booking.com 
Untuk lokasi, kedua hotel ini terletak berhadapan dengan terminal kedatangan dan keberangkatan bandara Imam Khomeini.
Sampai saat ini dari bandara ke pusat kota tidak transportasi umum dan karena kami tidak ingin menghabiskan waktu di Tehran, ditambah lagi waktu ketibaan dan keberangkatan pesawat selalu pagi buta, maka untuk alasan tersebut kami memilih hotel ini.

View from my room at Novotel Tehran, Iran

Winning location

Lobby of Novotel Hotel Tehran, Iran



{ Rekomendasi menginap dimana di Shiraz, telah saya tuliskan review nya : klik disini }

YAZD : Fazeli Hotel

Kami menghabiskan 3 malam di kota Yazd karena rekomendasi teman yang baru saja menyelesaikan trip nya ke Iran,  dan referensinya mengenai kota Yazd sangat tepat karena ternyata memang kota ini penuh ambiance yang sangat authentic.
Melalui forum di internet saya menemukan Fazeli Hotel, hotel ini baru dengan model ala traditional guest house khas Persia.

Untuk lokasi Fazeli Hotel ini terletak sangat strategis di daerah kota tua Yazd, hanya 2 menit jalan kaki ke Jāmeh Mosque yang terkenal di Yazd itu.
Menurut saya lokasi kota tua ini sangat menarik, berbentuk labirin yang menyesatkan tapi seru.
Staff di Fazeli Hotel yang kami temui semuanya sangat ramah, sopan dan selalu siap membantu ketika diperlukan. Mereka juga bergerak cepat ketika kami membutuhkan tiket bus dengan tujuan kota berikutnya, tiket tersebut bahkan tidak ada extra charge nya.

Bisa diliat foto-fotonya di Instagram : Fazeli_Hotel
Reservasi bisa melalui email  : fazelihotel@yahoo.com 
Rate: US$ 55 per malam termasuk sarapan pagi buffet dengan pilihan menu yang lumayan banyak.


our room at Fazeli Hotel, Yazd Iran

Fazeli Hotel and Courtyard

Breakfast Situation at the Fazeli Hotel in Yazd, Iran

ISFAHAN : Amir Kabir Hostel

Ini hostel sederhana tapi ngetop banget di Isfahan, kamarnya banyak dan saya suka courtyard mereka yang dipakai seperti tempat ngumpul-ngumpul tamu lain, sekalian jadi tempat breakfast juga dan breakfast nya termasuk di harga kamar.
Rate per kamar nya kalau untuk 2 orang : USD 40 shared bathroom tapi bersih dan memadai.
Untuk dormitory, per orang nya USD 10
Semua staf nya juga sangat membantu sekali dan ramah. Kami sempat berjumpa dengan pemiliknya juga saat check out, Pak Amir Kabir, such a sweet old man yang sudah memiliki hostel ini puluhan tahun.

Dari terminal bus ke hostel ini udah pada tahu lah supir taksi, tapi hati-hati ya supir taksi di terminal Isfahan suka scamming, ga semua sih tapi kebetulan kita dapat supir taksi yang nyoba untuk scam kita.

Sedikit informasi tambahan :
Jika perlu supir dan sewa mobil ke Kashan atau excursion lainnya selama di Isfahan, ada supir yang sering dipakai tamu-hostel hostel untuk sightseeing.
Kita pakai orang ini, ex beach guard di Dubai dan sekarang dia kerja di Iran sebagai tour guide. Orangnya baik banget dan recommended.
Kita pakai dia untuk nyupirin dari Isfahan ke Kashan, dan berhenti di Abyaneh Village dan Nathan.
Namanya Zandi Tours ( zanditour@gmail.com ) Whatsapp : +98 913 2051 561

KASHAN : Doost House

Selain Yazd, Kashan juga menjadi kota favorit kami selama di Iran pada trip perdana kali ini. Rasanya kota tua di Iran itu memang sangat menarik jika kita mau melihat budaya arif setempat, jauh dari hingar bingar kota besar Tehran atau Shiraz.

Karena kami traveling ke Iran saat musim panas dan puasa, maka pada saat membuat itinerary memang telah menyediakan waktu untuk bersantai dan hibernasi, seperti hal nya di Yazd kami tinggal di kota tersebut selama 3 malam, demikian juga di Kashan.

Di Kashan saya memilih traditional house juga, awalnya ingin menginap di Nogli House yang sangat terkenal di Kashan, sayangnya bertepatan dengan renovasi sehingga kami dialihkan untuk menginap di sister property milik Nogli House yang namanya Doost House.
Awalnya kami kecewa karena review orang-orang mengenai Nogli House sangat bagus, namun kekecewaan tersebut berubah menjadi sangat senang karena Doost House ini malah lebih bagus dan letaknya lagi-lagi di tengah labirin kota tua, justru lokasi Nogli House pas kami lewati kurang begitu ok karena berada di depan jalan raya.

Doost Hotel , traditional guest house in Kashan, Iran

Our favourite staff at the hotel and the breakfast situation at Doost House, Kashan, Iran

Doose House in Kashan Iran has also a dormitory room if you like, around USD 15 per person included breakfast

Doost House : Recommended place to stay in Kashan, Iran
Untuk reservasi  Doost House, bisa melalui Noghli House, nanti bilang saja mau nginepnya di Doost House.
Website : http://www.noghlihouse.com/en/
Email : info@noghlihouse.com
Rate : USD 43/ night termasuk sarapan tradisional & buffet


Click here to see all of the related posts about Iran: visa, itinerary, sightseeing spots & tips

Terpukau Keindahan Goreme National Park, Turki

Pertikaian politik dalam negeri di Turki sepertinya tidak mengurangi keinginan banyak wisatawan Indonesia untuk mengunjungi negeri ini, urusan visa Turki yang sangat mudah mendapatkannya, budget hidup sehari-hari yang masih terbilang terjangkau dan sejarah serta kekayaan alamnya yang akan membuat siapa saja terpukau. 

Kami telah mengunjungi Turki dua kali, dan untuk beberapa area tertentu disana saya tidak berkeberatan untuk kembali lagi dan lagi. Salah satunya adalah Goreme National Park  atau banyak yang menyebutnya dengan istilah negeri peri dan cerobong asap, dianugerahi UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia pada tahun 1985 karena keunikkan kontur daerahnya yang unik, dikelilingi formasi batuan dengan bentuk tidak biasa dan dramatis akibat erupsi jutaan tahun silam. Kalau kata suami saya sih, Flintstones tidak perlu ribet bikin setting lokasi karena semua sudah tersedia di Goreme, alami.




Sepanjang sejarah, formasi batuan dan gua dijadikan rumah,  gereja, biara-biara dan juga sebagai tempat berlindung dari penyerbu asing. Bahkan ada juga kota bawah tanah yang dibuat manusia seperti kota lengkap hanya saja ini di bawah tanah lengkap dengan terowongan dan tangga menuju terus ke bawah tanah. Terdengar seperti cerita legenda dan perlu langsung dilihat sendiri kemegahan kota bawah tanah ini, it really blow my mind.


Goreme Open Museum

Mengunjungi Goreme National Park jangan lewatkan mengunjungi Goreme Open Museum, dengan tiket seharga 25 Lira atau kurang lebih sekitar Rp. 100.000,-  kita dapat menyusuri kompleks Goreme Open Museum ini yang sebenarnya adalah kompleks gereja kono dan biara yang telah ada sejak abad ke 3 dan 4, disebut juga dengan Land of The Three Saints ( St.Basil, St. Gregory of Nysaa, dan St Gregory of Nazianzus )  yang adalah para penyebar injil di daerah ini. 


salah satu lukisan di dalam gereja tua di Goreme Open Museum

Goreme Open Museum

Goreme Open Museum


Ada 11 gereja kuno yang ada di Goreme Open Museum, bukan gereja biasa karena arsitekturnya sendiri sungguhlah unik, dipahat dari batu putih khas Goreme dan di dalamnya penuh dengan lukisan dari pahatan yang diberi warna natural. Sayang tidak bisa difoto di dalam setiap gereja kuno nya, no idea why, hanya saya melihat lukisan dengan gambar Yesus atau orang suci, di setiap gambar matanya seperti dicongkel. Konon kepercayaan warga lokal bahwa mereka harus mencongkel bagian matanya karena dianggap mata setan yang bisa membawa sial, ada juga yang mengatakan ini perbuatan tentara Ottoman, alasan lain karena dianggap dapat memberikan mujizat kesembuhan. Entahlah.


Pasabag ( Monk Valley )

Diucapkan Pah-shah-bah, daerah ini terkenal dengan fairy chimney ( peri cerobong asap ) yang khas. Struktur alam yang menakjubkan adalah hasil dari erosi yang terjadi jutaan tahun yang lalu dan penduduk setempat sering menyebut batuan raksasa ini sebagai peri cerobong asap berbentuk jamur. Menurut legenda, area ini dipercaya dihuni oleh peri yang tinggal di bawah tanah.


Pasabag

Fairy Chimney

Cerobong Peri


Sesuai namanya, pada abad ke 4 dan 5 banyak biarawan yang mengungsi dan bersembunyi disini karena Cappadocia telah menjadi komunitas monastik yang berkembang  dan St Simeon adalah salah satu dari banyak biarawan yang datang. Ia hidup sebagai seorang pertama di salah satu cerobong asap yang ada disana, dan lalu kemudian tempat tersebut dijadikan kapel yang didedikasikan untuk St Simeon. 

Biarkan daya imajinasi Anda bermain ketika berada disini, banyak ukiran batu yang menyerupai banyak bentuk seperti bentuk binatang, jamur, atau hmm you name it deh :-)


Cave Hotel & Hot Air Balloons



Menikmati gugusan batu raksasa dengan bentuk unik dari ketinggian

one life time experience, not to be missed

Lounge with the view

our breakfast table setting in the cave hotel

our cave hotel, what an unforgetable stay


Dua hal aktifitas yang wajib juga dilakukan ketika berada di Goreme National Park adalah menginap di hotel tradisional yaitu berbentuk goa yang dipahat dari batu putih khas Goreme.
Lalu tentunya terbang dengan balon gas saat matahari terbit, saya pastikan kedua hal ini akan menjadi pengalaman yang tidak akan terlupakan ketika Anda berada di Goreme.

Baca disini juga ya : 

Itinerary Roadtrip to Southern France

Prancis Selatan tidak melulu mengenai Cannes dan Nice, banyak kota lainnya yang juga patut dikunjungi. Dan walaupun Prancis Selatan tidak mengenal kapan musim terbaik untuk traveling kesana, tapi saya akan menyarankan pergilah saat musim semi atau panas supaya bisa leha-leha menikmati laut Mediterania :-)
Pada postingan kali ini saya akan berbagi itinerary liburan ke Prancis Selatan yang kami lakukan pada musim panas yang baru saja berlalu.

Sila juga klik video di bawah ini & jangan lupa subscribe ☺☝



Day 1 : Marseille 

Marseille bisa dipilih sebagai kota pertama untuk memulai perjalanan Anda menyusuri Prancis Selatan, sebagai kota terbesar kedua di Prancis setelah Paris, Marseille juga memilki bandar udara International dan domestik. Kalau Anda tiba di Paris, coba saja cek penerbangan low cost seperti Ryan Air yang menghubungkan Paris, London, Brussels ke Marseille.
Pilihan transportasi lainnya yang paling saya sarankan adalah menyewa kendaraan ketika tiba di Marseille.

Apa yang bisa dilihat di Marseille ?
Sebagai kota pelabuhan utama Prancis dimana pelabuhan tersebut sudah ada sejak jaman Romawi pada abad ke 6, tentunya pelabuhan ini menjadi sightseeing utama kota Marseille. Sepanjang boulevard nya dipenuhi restoran yang berpacu menjual suasana, membuat pelabuhan terkesan lebih cantik.

Marseille The Harbour City of France


Pesona dan kemegahan Marseille juga dapat dirasakan dengan mengunjungi Abbey of Saint Victor, Nikmati pemandangan tepi pantai yang luas dari basilika yang dibangun pada abad ke-19, Notre Dame de la Garde, namanya memang mirip-mirip dengan Notre Dame de Paris ya.
Dari basilika Notre Dame de la Garde ini kita dapat melihat pemandangan Marseille, kepulauan Frioul dari kejauhan juga benteng sekaligus penjara Château d'If.

Kita bisa juga sih mengunjungi Château d'If ini dari pelabuhan Marseille karena memang terbuka untuk umum. Saya teringat akan Alcatraz di San Francisco jika melihat Château d'If ini, lokasinya yang terpencil dan di tengah-tengah pulau dengan lepas pantai yang berbahaya, pastinya sangat menyulitkan narapidana untuk melarikan diri. Penjara ini menjadi yang paling ditakuti di seantero Prancis, dan menjadi tempat tahanan politik pada masanya.

Day 2 & 3 : Valensole & Manosque

Selepas kota besar seperti Marseille yang hiruk pikuk, saatnya menikmati pedesaan asri khas Prancis Selatan.
Manosque menjadi tempat pemberhentian selanjutnya, tidak begitu jauh dari Marseille, dengan berkendara dapat ditempuh selama kurang lebih 2 jam, sama sekali tidak membosankan karena panorama selama perjalanan yang sangat menyegarkan mata. Mengapa Manosque? Karena di  Manosque tersedia banyak penginapan bagi wisatawan yang datang ke Prancis Selatan untuk melihat ladang bunga Lavender yang fenomenal itu. Ladang bunga nya sendiri tersebar di Valensole, tidak jauh dari Manosque.

Sunflower Fields All Around Southern France

Visit Tour L'Occitane in Monasque


Di Manosque juga terdapat pabrik dan headquarter kosmetik merek L'Occitane, untuk yang tahu merek ini atau bahkan pemakai produk-produknya, maka tidak ada salahnya datang berkunjung karena mereka membuka pintu untuk visit tour ke pabriknya.


Day 4 : Gorge Du Verdon

Karena menginap di Manosque yang lokasinya sangat strategis, kami menyediakan waktu sehari penuh untuk menjelajahi Gorge Du Verdon, atau ngarai Verdon yang adalah ngarai terbesar di Eropa dengan panjang sejauh 25 kilometer dan bagian terdalam mencapai 700 meter. Jalannya sendiri memutar seperti ular di antara bukit dan batu raksasa.
Warna sungai biru kehijauan bagaikan magnet bagi  pecinta olahraga air karena disini kita bisa berenang atau bermain kayak.
Karena dinding batu raksasa yang mengelilingi ngarai, Gorge Du Verdon juga difavoriti oleh mereka yang suka memanjat.

Gorge Du Verdon

Gorge Du Verdon

Lac de Sainte-Croix


Desa-desa tua khas Prancis yang tidak kalah cantiknya juga banyak terdapat di area ini, salah satunya adalah Moustiers Sainte Marie yang dikelilingi tebing berbatu.
Inilah nikmatnya berkendara ketika ingin traveling ke Prancis Selatan, karena banyak desa-desa kecil seperti ini yang akan dilewati, tentunya sayang jika tidak berhenti barang sejenak.

Moustiers Sainte Marie

Moustiers Sainte Marie

Day 5 : Grasse 

Bagaimana rasanya berada di kota yang ditahbiskan sebagai kota parfum dunia? Amazing!

Kalau selama ini kita hanya tahu membeli minyak wangi di toko atau department store, sudah pasti berada di kota Grasse akan menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Ratusan merek parfum artisan dibuat di kota ini, bahkan kita juga bisa membuat parfum dengan aroma pilihan sendiri lho.

Grasse - Parfume Capital of The World


Di Grasse juga terdapat hektaran ladang bunga mawar dan melati yang menjadi bahan utama parfum. Parfum Chanel No 5 juga mengambil bahan pembuatan parfumnya dari ladang bunga mawar di Grasse. Dengan mengikuti visit tour ke beberapa pabrik parfum di Grasse, bisa dipastikan kita tidak akan mengeluh lagi jika ingin membeli parfum yang memang tidak murah karena di balik sebuah botol parfum itu ada proses yang tidak mudah.


Day 6, 7 & 8 : Saint Tropez

Tidak lengkap rasanya tidak mengunjungi kota-kota pinggir laut selama di Prancis Selatan. Banyak kota terkenal di Provence yang sangat mengakomodir para wisatawan apapun gaya berliburnya, mulai dari penginapan bed & breakfast, chateau, hotel ataupun villa mewah. Tinggal pilih saja sesuai budget dompet.

Untuk lokasi, bisa dipilih antara kota-kota terkenal seperti Cannes, Nice, Antibes, Sainte-Maxime, Saint Tropez, atau yang lebih low profile seperti Fréjus.  Apapun pilihannya, kita bisa kok hopping on off di antara kota-kota yang ada, sambil sesekali berhenti di pinggiran bibir pantai.

One Fine Day in Saint Tropez

Saint Tropez

Saint Tropez

Saint Tropez

Frejus

Summer 2016 Southern France Trip


Prancis Selatan sudah sejak lama menjadi inspirasi para selebritis seperti Brigitte Bardot dan Alain Delon yang memilih untuk tinggal di Saint Tropez pada masanya, atau lembaran majalah gosip yang dipenuhi foto-foto candid selebritis seperti David Beckham atau Rihanna yang sedang asyik berjemur di atas deck kapal pesiar.

Di balik hedonisme wajah Saint Tropez, kita bisa tetap menikmati gang-gang kecil seperti labirin, dan jangan heran jika Anda melihat butik sepatu mewah Stuart Weitzman bersebelahan dengan toko buah.

Day 9  & 10 : Nimes & Arles

Prancis negara penuh pesona dan sesungguhnya ini bukan slogan semata, mulai dari taman nasional yang terawat sempurna, jalanan yang mengitari Pegunungan Alpen dalam kondisi sangat baik, sampai kota tua yang dijaga sebegitu rupa seperti jaman aslinya.

Sejarah Kerajaan Romawi yang menguasai sebagian besar negara ini pada masanya membuat kita yang hidup di jaman sekarang dapat menikmati peninggalan Romawi tersebut.

Untuk melengkapi itinerary kunjungan Prancis Selatan, supaya lebih lengkap, suami saya mengusulkan dua kota ini untuk dikunjungi, Nimes dan Arles yang jaraknya lumayan berdekatan satu sama lain. Kedua kota ini juga bisa dibilang mirip karena masing-masing memiliki reruntuhan Romawi di seluruh kota, termasuk amfiteater yang masih digunakan untuk adu banteng.  

Amfiteater di Nimes dan Arles masih berdiri tegak dan beda dengan yang ada di Roma yang selalu ramai dikunjungi pengunjung, di kedua kota ini saya merasa amfiteater ini seperti milik saya sendiri. 

Amphiteatre in Nimes

Maison Carree Nimes



Bagaimana dengan itinerary tersebut di atas, semoga bisa merubah paradigma kalau Prancis bukan hanya saja mengenai Paris ya ☺