In A Land Called 'Le Mont St Michel'

By 5:54 PM , , ,





France's Hidden Gem
Prancis tak selalu haruslah Paris walaupun Paris nyatanya identik dengan Prancis, Paris has quite a haughty sense of self-importance, still you cant help but love it. Sebagai salah satu negara terbesar di Eropa, memang sulit menentukan pilihan harus mulai darimanakah mengeksplor negara yang satu ini, bagi sebagian wisatawan yang memiliki waktu terbatas, berada hanya di Paris tidak bisa mendeskripsikan betapa ragamnya estetika keindahan yang ditawarkan oleh negara asal Napoleon Bonaparte ini.
Transportasi untuk mengunjungi Prancis dari utara ke selatan dan timur ke barat bukan penghalang, kereta nasional dan low cost airlines siap mengakomodir para wisatawan, atau dengan sewa mobil bisa juga dijadikan solusi, kontur jalanan baik itu jalan-jalan di pedesaan, di atas pegunungan dan high way nyaris sempurna dan tanpa lubang. Belum lagi pemandangan sepanjang jalan yang 'almost heaven', sebelah kiri kanan mata memandang hanyalah hektaran kebun anggur, kebun bunga matahari sampai dengan kebun rapeseed yang menguning dengan indahnya.


Tak heran banyak selebritis papan atas menginvestasikan properti milik mereka di daerah bagian selatan atau barat dari Prancis, sebut saja pasangan Angelina Jolie dan Brad Pitt yang disebut-sebut memiliki properti di Aix-en-Provence, dilaporkan di tanah milik mereka itu tertanam paling tidak 13 jenis tanaman, dikelilingi 20 air mancur, hidden tunnels dan danau.

The Enduring Mystique of Le Mont St Michel
Sebagai destinasi ungggulan negara Prancis, tiap tahunnya Le Mont St Michel ramai dikunjungi bukan saja wisatawan luar Prancis, tapi penduduk lokal dari propinsi-propinsi lainnya kerap mendatangi cagar budaya Internasional ini.
Le Mont Saint Michel adalah sebuah daerah di Normandi, berbatasan dengan Bretagne dimana yang menjadi tujuan utama para wisatawan adalah pulau kecil yang dikikis dari karang raksasa dimana terletak gereja dan monastery.
Letak lokasi yang hampir menyerupai Tanah Lot di Bali memang unik punya, sebagian bangunannya berada di antara pinggir lautan dan daratan.

Dari desa dengan jarak kurang lebih 5 kilometer sebelum tiba di Le Mont St Michel, telah terlihat dari kejauhan sosok bangunan menyerupai kastil yang megah,ditambah lagi suasana pagi itu yang masih berkabut di kejauhan semakin tampak terlihat lebih mistik lagi. Nampak sesekali kawanan sapi dan petani yang sibuk bekerja di ladang tak jauh dari Le Mont St Michel.
Jalanan luas beraspal sengaja dibangun untuk menghubungkan Le Mont dengan daratan terdekat demi memudahkan kunjungan wisatawan, tempat parkir mobil yang dipatok perjam penyewaannya memang laris manis, karena untuk mendekat ke Le Mont hanya bisa diakses dengan berjalan kaki saja, walaupun demikian tersedia juga free shuttle – kendaraan yang menggunakan tenaga...diperuntukkan untuk para pengunjung yang segan untuk mengayuh kakinya untuknya berjalan.
Sesampainya di pintu masuk....akan dijumpai papan pengumuman yang terpampang pada setiap harinya informasi kapan waktu untuk meninggalkan Mont St Michel, dimana di waktu tersebutlah air akan diperkirakan pasang atau naik ke daratan, jika air telah pasang, maka mau tak mau kita tak bisa meninggalkan tempat tersebut. Pada ketibaan saya di tempat tersebut, saya membaca bahwa para pengunjung yang sedianya hanya melakukan tour setengah hari, kiranya dianjurkan untuk meninggalkan Le Mont pada pukul jam 4 sore.

Berdasarkan sejarahnya, Le Mont dibangun pada tahun 709 oleh Uskup Aubert dari Avranches yang mendapatkan penglihatan serta nubuat untuk membangun bangunan untuk para biarawan di sebuah pulau karang terpencil di tengah laut. Namun pada abad ke 19, fungsi gereja ini berubah menjadi penjara. Untuk itu maka di sekeliling pulau tersebut dibangun tembok-tembok tebal yang tinggi menjulang. Karena itulah, saat ini para turis bisa menemukan corak arsitektur dengan dominasi gaya religius di bagian atas, sementara di bagian bawah gaya arsitekturnya lebih terkesan kokoh layaknya kebanyakan bangunan militer Eropa di abad pertengahan.

Untuk menuju sampai di gereja Mont Saint Michel, para pengunjung harus melewati kota tuanya terlebih dahulu, kontur jalan kecil sempit yang menanjak dengan gang yang berkelok-kelok terasa begitu misterius ditambah lagi saat saya berada disana, gerimis hujan tidak berhenti sebentarpun.



Di balik gagahnya dinding-dingin tinggi yang tebal itu, ternyata kota kecil ini sangatlah cozy dan menyenangkan, deretan resto yang menawarkan menu khas Prancis, toko suvenir yang banyak menjual cenderamata khas Le Mont St Michel seperti tas kain bergambar bangunan ciri Le Mont, magnet kulkas, beragam kartu pos, lukisan-lukisan pop art yang sangat unik sampai dengan pedang-pedangan dan kostum tentara pada abad....Sebagai pencinta seni vintage, sungguh saya sangat dimanjakan berada di kota mungil ini. Belum lagi beragam tampilan papan nama dari toko dan resto tersebut yang dibuat tergantung dengan gambar dan tulisan warna warni.




-MUSEUM Torture-
Setelah melewati jalanan yang menanjak dengan anak tangga batu yang berjumlah ratusan, sampailah saya di pintu masuk gedung utama dari bangunan Abbaye di mana setiap pengunjung yang ingin memasuki komplek Abbaye diharuskan membayar tiket sebesar 9 Euro untuk pengunjung dewasa. Rombongan wisatawan yang datang secara berkelompok nampak sangat ramai mengantri, untung saja untuk para wisatawan yang datang secara individual memiliki antriannya sendiri dan nampak sangat sepi.

You Might Also Like

0 comments

Friends, Thank you so much for reading + supporting my blog, and for taking the time to leave me a comment.
Your comment support truly means so much to me.
Have a lovely day! xo, Jalan2Liburan