Lamalera: Desa Pemburu Paus – The Whale Hunter Village

By 5:04 PM , , , ,


For English Version of Lamalera - The Whale Hunter Village, Please click HERE

Hanya dengan menunjukkan jari di peta, maka saya dan suami akhirnya memutuskan untuk mengunjungi Pulau Lembata setelah perjalanan kami di kota Larantuka selesai, Ritual Semana Santa di Larantuka meninggalkan kenangan manis di hati, dan saatnya kami pun bergegas merapikan ransel bawaan dan melanjutkan perjalanan.
Kali ini, kami akan melangkah menuju Pulau Lembata. Terus terang, saya tak pernah mendengar nama Pulau ini sebelumnya, saya lebih familiar dengan Pulau Alor yang segugusan dengan Lembata, hanya yang menarik perhatian saya adalah saat suami berkata bahwa salah satu kampung di Pulau Lembata ini yang bernama Lamalera adalah satu-satunya desa di dunia yang masih memburu Paus sperma dengan cara tradisional. Ahhhh, pikiran pun sayup sayup mengumpulkan daya ingat nya, memang saya pernah membaca di blog seseorang mengenai hal unik yang satu ini. Sangat menarik.

Jadilah dengan modal tiket Rp.25.000,- kami berangkat dengan kapal kayu menuju pelabuhan di Pulau Lembata, Lewoleba dari Larantuka. Pelabuhan yang terapit di antara gunung-gunung tinggi memberikan kesan 'jatuh cinta pada pandangan pertama'.
Lewoleba merupakan kota transit yang tepat bagi mereka yang ingin mengunjungi Lamalera. Sesampainya kami di penginapan di Lewoleba, nampak 2 pasangan asal Prancis yang sedang duduk-duduk santai di depan kamar mereka, ternyata mereka baru saja kembali dari Lamalera setelah menghabiskan 5 hari disana. Melalui hasil dari chit chat dengan mereka, kami pun mendapatkan banyak informasi bagaimana menuju Lamalera dan rekomendasi penginapan. Mereka berpesan untuk menyiapkan badan pada saat perjalanan nanti, karena walaupun hanya berjarak kurang dari 50 kilometer, namun waktu yang dibutuhkan adalah paling tidak 5-6 jam sekali jalan. Well, ok bring it on then :)

Kurang lebih pukul 12 siang itu, bis 3/4 serupa dengan kendaraan van, menjemput kami di depan penginapan, si supir berkumis tebal tersenyum menyambut dan mempersilahkan kami naik ke kendaraanya, sambil menanyakan apakah kami membawa barang bawaan. 2 tas punggung berisi pakaian untuk traveling kali ini saya titip di penginapan di Lewoleba saja, saya pikir akan lebih efisien karena toch saya akan kembali lagi setelah perjalanan Lamelera selesai.
Seperti biasa, kendaraan di NTT mempunyai kebiasaan untuk menjemput para penumpangnya, sambil sesekali melewati terminal dan berharap ada penumpang tambahan, bukan hanya penumpang saja yang diangkut, pak supir juga berlakon seperti pak pos yang membawa paket-paket titipan dari kota Lewoleba ke kota Lamalera, dengan hati-hati diikatkannya paket-paket yang kebanyakkan hasil panen itu.

Jarak yang kurang dari 50 kilometer dan ditempuh sampai dengan 5 jam tersebut ternyata bukan isapan jempol, helaan nafas panjang terus menerus keluar dari hidung dan mulut saya, ini perjalanan gila, jalanan yang tidak bisa dibilang jalanan ini hancur lebur sejadi-jadinya, ditambah lagi jalanan yang berkelok-kelok menambah lagi derita, entah berapa kali saya membenarkan posisi duduk. Tanpa henti saya mengumpat pemerintah lokal, apa sih yang mereka kerjakan sebenarnya, jalanan berjarak 50 kilometer saja dibiarkan rusak dan rakyat harus sengsara karena nya. Coba analisa sendiri saja, bagaimana kondisi perekonomian bisa membaik jika jalanan yang merupakan alat bantu kehidupan paling esensial dibiarkan tak karu-karuan seperti ini. Jika hujan turun, sudah dipastikan jalanan lumpuh total. Gemes sejadi-jadi nya, entah kepada siapa ingin mengadu.
Tapi bukan orang NTT namanya kalau tidak selalu sabar, walaupun jalanan dengan rute gila ini bikin tekanan darah naik, si supir tetap dengan santainya mengumandangkan suaranya mengikuti lirik dari lagu yang diputar dengan volume tinggi dari radio tape...“berapa puluh tahun lalu, beta masih kecil le, beta ingat tempo itu sioo mama gendong-gendong beta eeee”

Sesekali kendaraan harus berhenti karena terhalang dahan pohon bambu, terpaksa supir harus turun dan dengan dibantu salah satu penumpang untuk menebas dahan-dahan yang menghalangi jalan tersebut.
Mimpi buruk selama perjalanan itu terbayar dengan pemandangan laut Savu dari ketinggian dan karena cuaca yang cerah kala itu, nampak juga gugusan pulau besar yang ternyata adalah Timor Timur. Indah.


Memasuki desa Lamalera, akan nampak jejeran tulang tulang kepala Paus, Orka dan Lumba Lumba seakan mengucapkan “Selamat Datang”. Begitu juga saat saya tiba di homestay, di halaman belakang selain ada hewan peliharaan babi, kambing dan ayam yang berkeliaran, terlihat juga tulang-tulang belakang Lumba-Lumba juga kepala nya yang telah dikeringkan.



Terus terang Love and Hate Collide terjadi di kota ini, cinta karena keindahan alam dan keramahan penduduknya, namun juga benci karena ritual mereka memangsa dan mengkonsumsi jenis-jenis mamalia laut hampir punah yang lucu-lucu ini, seperti di laut tidak ada jenis ikan lain saja. Perlahan tapi pasti, segenap rasa dan pikiran positif saya coba untuk kumpulkan, sesungguhnya saya tidak boleh menghakimi kebiasaan dan tradisi orang lain tanpa mengetahui latar belakangnya, toch saya bukan juri kehidupan yang menghakimi kehidupan orang lain.




Pagi kedua kami terbangun bukan karena merdunya suara ayam jantan berkokok namun karena saut-sautan teriakkan: “Baleooo Baleoooo” - ”Baleo Baleooooooo” dari sepenjuru mata angin, sambil terdengar suara langkah kaki puluhan orang yang bergegas, rasa penasaran dan juga sedikit hati kecut mencoba menganalisa ada apa gerangan di luar sana. “it s not true hah?, they must be saw the whale” kata suami. Anak pemilik homestay pun mengiyakan pernyataan tersebut, menurut nya ada nelayan yang melihat paus sperma dari kejauhan dan maka keriuhan pun terjadi, para nelayan pun berkumpul menuju tempat parkir kapal mereka, membawa nya ke pinggiran bibir pantai dan 16 nelayan yang masing-masing diisi kurang lebih 12 orang segera memulai menyalakan mesin motor kapal dan berlayar menuju tempat dimana si Paus Sperma tersebut terlihat.


Tunggu punya tunggu, saya sabar menanti, kebetulan teras belakang homestay saya ini menghadap langsung ke laut dan perkampungan nelayan tersebut, jadi semua aktifitas dapat mudah terlihat. Sudah 4 jam para nelayan macho tersebut telah meninggalkan desa dan tak ada tanda-tanda mereka kembali with or without the whale. Sekitar 5 jam an , satu per satu kapal pun kembali, kali ini mereka gagal menangkap target mamalia raksasa itu. Dalam hati saya mengucap syukur si paus itu bisa kabur, namun melihat gelagat para nelayan yang lunglai kembali ke rumah mereka masing-masing, rasanya juga tak tega. Mereka punya keluarga yang harus diberikan makan. Suka tak suka, aneh tak aneh, tapi Paus lah menu makanan yang menurut mereka menu mewah.
Tradisi memburu dan mengkonsumsi Paus bukan baru-baru ini namun telah terjadi sejak abad 16 silam, then who s to be blame?
Lamalera pun terbebas dari sangsi dunia Internasional, karena tradisi memburu Paus ini dilakukan secara tradisional, dan untuk dikonsumsi oleh penduduk nya sendiri.
Anda bisa ikut bergabung naik di salah satu kapal yang hendak berlayar memburu Paus tersebut, dikenakan biaya Rp.100.000,- per orangnya, siapkan hati dan mental tebal, karena ini perburuan darah dengan salah satu mamalia terbesar di dunia. Face to face with the whale, are u dare?



You Might Also Like

11 comments

  1. Such a great post! Tapi honestly aku miris banget bacanya. Dolphin and whale are beautiful creatures T.T

    ReplyDelete
  2. @debbzie thanks Deb. Ada saat nya memang ketika kita berjalan, kita harus membuka jubah supaya tidak menghakimi...dilema :)

    ReplyDelete
  3. Bener itu, kita sebagai traveller harus punya pikiran yang terbuka, ga boleh menghakimi, walau di "dunia" kita itu emang ga bener...walau miris juga sih liatnya :( tapi tradisi ya memang tradisi

    ReplyDelete
  4. AAAAAAAAKKKKKKKKKKKK! *nangis kejer lihat lumbah-lumbah-nyah* :"(

    ReplyDelete
  5. Saya pernah lihat dokumentarinya hunting HANYA 6 paus dan dibagi untuk seluruh penduduk desa. Mereka pakai semua bagian dari paus yg ditangkap - jadi tidak ada satupun bagian yg dibuang.
    Menurut saya, mereka memang memburu paus bukan untuk komoditas seperti pemburu ikan ilegal lainnya tetapi desa ini memburu paus untuk bertahan hidup bukan foya-foya seperti para pengkonsumsi hiu atau hewan exotic lainnya.
    I am a life-time animal lover but I respect their tradition even though I do not consume meat in general ;-)

    ReplyDelete
  6. I meant - hunting 6 ekor paus untuk 1 tahun ...

    ReplyDelete
  7. Kasihan banget lumba-lumbanya...hiks...
    Kampung ini masih menjadi tugas berat bagi lembaga konservasi untuk meyakinkan masyarakat supaya meninggalkan tradisi kunonya, kak...
    Semoga ada titik terang di antar keduanya.

    ReplyDelete
  8. Lamalera, daerah yang memiliki dua sisi "kehidupan" yang berbeda, orang memandang dengan dua sudut pandang yang berbeda, pemahaman yang berbeda pula... klasik... karena point of view dari sisi budaya & konservasi belum ditemukan titik temu nya.

    Tapi saya berada di posisi yang tidak setuju dengan perburuan paus, manta & lumba² di Lamalera. Saya bukan aktivis lingkungan yang gencar memperjuangkan konservasi, saya menghargai budaya & adat istiadat masing² daerah di Indonesia. Perburuan paus di Lamalera terus terjadi karena alasan alasan sudah menjadi adat leluhur yang turun temurun. Tak bisa dihitung lagi berapa paus, lumba² dan manta yang mati dihujam tempuling para lamafa dari atas peledang…

    Meskipun ada pembatasan penangkapan paus dalam setahun (misal hanya 6 paus per tahun) tapi... kalau di logika, berapa puluh tahun yang dibutuhkan untuk seekor paus beranak pinak meneruskan generasinya? apabila dibiarkan, lama² paus akan punah. (iyaaa saya tahu, nggak cuma di Lamalera aja yg punya tradisi menangkap paus & lumba²). Paus, lumba² dan manta masing² memiliki peran penting dalam rantai makanan & keseimbangan ekosistem laut.

    Solusinya, dilakukan pendekatan secara cultural, social & religi (mungkin) oleh semua pihak termasuk pemerintah, kepada masyarakat Lamalera untuk membuka wawasan mereka tentang adat istiadat menangkap paus. Masyarakat Lamalera bisa diajak untuk mengoptimalkan potensi wisata desanya, sehingga mereka bisa "hidup" dari sektor pariwisata tanpa menangkap paus & lumba² lagi.... Toh budaya juga hasil kreasi manusia, bukan? jadi bukan harga mati... budaya itu berkembang seiring kemajuan jaman. Jadi mari berbudaya yang baik demi kelangsungan kehidupan di bumi pertiwi :D

    ReplyDelete
  9. kasian liat lumba2 nya di foto, eh tapi artikelnya tentang pemburu paus kan ya, koq ada foto lumba2 mati juga :( *jgn2 itu paus kecil haha*

    ReplyDelete
  10. http://sfglobe.com/?id=2021&src=share_fb_new_2021 nih serem lagi pembunuhannya massal

    ReplyDelete

Friends, Thank you so much for reading + supporting my blog, and for taking the time to leave me a comment.
Your comment support truly means so much to me.
Have a lovely day! xo, Jalan2Liburan